MADU UNTUK MERTUA (Chessy) Bab 1. "Goda ayah mertuaku. Buat dia bertekuk lutut padamu. Ini upahmu. Kubayar sisanya jika kalian sampai menikah." Kesal karena ibu mertua menyuruh suamiku menikah lagi, kuhadirkan saja madu untuk ibu mertua biar dia paham sakitnya dimadu. Menyala tanpa token! * “Saya terima nikahnya Inara Hapsari Gunawan binti Handi Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “SAHH!!” Tubuhku terasa lemas luar biasa saat pernikahan kedua suamiku disahkan oleh penghulu. Bibir dan jemariku bergetar menatap senyum Mas Emir saat Inara mencium punggung tangannya. Tatapanku panas dan berkabut melihat kemesraan Mas Emir saat menyematkan kecupan lembut di kening istri keduanya. “Teganya mereka padaku,” gumamku sembari menahan air mata agar tak jatuh menetes. Harga diriku menahan agar tak menangis. Aku dihinakan di sini. Tanpa persetujuanku, mereka merencanakan pernikahan ini padahal aku masih istri sah dari Mas Emir. “Sabar, Chess. Kamu bisa sewaktu-waktu meninggalkan Emir kalau kamu mau. Kamu bukan wanita yang cuma bergantung sama suami. Kamu mandiri, punya usaha sendiri tanpa mereka tahu.” Rena, sahabatku menguatkanku. Genggamannya menguat di di sela-sela jemariku. “Jangan nangis. Kita balas mereka di waktu yang tepat.” Aku setuju. Entah bagaimana caranya, sakit hati ini harus dibayar tunai. Ibu mertuaku menyuruh Mas Emir menikah lagi karena dia ingin segera punya cucu. Kenapa gak Maira saja yang disuruh menikah? Kenapa malah menyuruh Mas Emir menikah lagi? Dasar mertua gak ada akhlak! Memangnya dia gak sakit hati kalau suaminya nikah lagi? Sebentar! Aku diam sesaat. Tiba-tiba terpikir olehku untuk membuat ayah mertuaku menikah lagi. Bu Hasnah tega sama aku sebagai menantu. Akan kubuat dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Aku menoleh ke Rena lalu berbisik, “Ren, pegawai kita ada yang masih gadis dan agak-agak centil trus mata duitan gak?” Rena menatapku dengan kening mengernyit dalam. “Buat apa kamu nyari pegawai yang seperti itu?” Aku lantas berbisik di telinga Rena sembari menutup dengan telapak tangan agar tak ada yang mendengar. “Akan aku bayar dia buat godain papa mertuaku biar jatuh cinta trus ngebet buat nikahin dia.” Mata Rena melebar. “Agak laen kawanku ini.” Dikiranya aku bercanda. “Gak usah nungguin karma. Sakit hati ini butuh pelampiasan. Dia tega, aku juga bisa tega. Kalau dia sayang sama aku, gak mungkin aku tega sama dia. Dia yang mulai, Ren.” “Kalau ketahuan gimana, Chessy?” Rena tampak khawatir. “Gak akan. Aku akan buat perjanjian sama cewek itu jangan sampai ketahuan. Makanya aku mau cari yang mata duitan. Jaman sekarang siapa yang gak mau duit?” Rena ngangguk-ngangguk dengar ide gak warasku ini. Siapa peduli? Aku cinta Mas Emir, cinta keluarga ini. Kubantu ekonomi keluarga ini tapi mereka gak tahu diri. Mas Emir seminggu yang lalu bilang gak setuju nikah lagi, tapi ucapannya berubah saat Bu Hasnah mengenalkan calon istri keduanya yang memang cantik dan masih gadis. Masih sangat muda. Bahkan baru berumur Sembilan belas tahun. Kata ibu mertua, Inara berasal dari keluarga subur, gak mandul seperti aku. Mereka tidak tahu saja, aku sengaja menunda kehamilan untuk mengetahui sifat asli Mas Emir dan keluarganya. Ternyata keputusanku menunda kehamilan ini benar. Belum ada satu tahun kami menikah, Mas Emir sudah disuruh menikah lagi. Rena lantas menunjukkan satu foto gadis dari handphonenya. “Chess, cocok gak? Bodynya aduhai, anaknya centil, matre.” Aku melihatnya. Cocok sekali dengan yang kumau. “Bawa aku temui dia besok.” Rena mengangguk. “Oke.” Rena menyenggol tanganku saat ibu mertuaku datang mendekat. “Lihat, suamimu begitu bahagia nikah sama Inara,” ucapnya dengan begitu congkaknya. “Iya, Bu.” Aku menjawab pelan, menyamarkan rencana ib-lisku untuknya. Lihat saja, Bu! Akan kubuat juga suamimu bahagia menikah lagi dengan yang lebih muda. *** Ada di KBM App Judul : MADU UNTUK MERTUA (Chessy) Penulis : Inge Lezta