Avatar TikTok de Adon

Adon

@adonews2
📊 TikTok Analytics Vexub 📉 -0.2% sur 14 vidéos 📅 1.01j / post

freetea

👥 Followers
3.18K
Taille du compte
👁 Avg views
633
Moyenne sur 15 vidéos
💬 ER global
0.96%
Likes + com + partages / vues
📌 Save rate
0.11%
Sauvegardes / vues
🔎 Détails (profil + refresh) ouvrir
⏱ Refresh : 06/02/2026 22:23 ❤️ Likes profil : 52.6K 🎥 Vidéos profil : 366 ➕ Following : 1 📦 Vidéos analysées : 15 🔥 7 dernières : 4.43K ⬅️ 7 précédentes : 4.44K
ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues • Revenu estimé basé sur les vidéos ≥ 60s des 30 derniers jours.
🎥 Dernières vidéos
Miniature vidéo TikTok
📆 06/02/2026 🚫 <60s
🏅 #14 / 15
🙂
Score vidéo 6/10

MADU UNTUK MERTUA (Chessy) Bab 1. "Goda ayah mertuaku. Buat dia bertekuk lutut padamu. Ini upahmu. Kubayar sisanya jika kalian sampai menikah." Kesal karena ibu mertua menyuruh suamiku menikah lagi, kuhadirkan saja madu untuk ibu mertua biar dia paham sakitnya dimadu. Menyala tanpa token! * “Saya terima nikahnya Inara Hapsari Gunawan binti Handi Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “SAHH!!” Tubuhku terasa lemas luar biasa saat pernikahan kedua suamiku disahkan oleh penghulu. Bibir dan jemariku bergetar menatap senyum Mas Emir saat Inara mencium punggung tangannya. Tatapanku panas dan berkabut melihat kemesraan Mas Emir saat menyematkan kecupan lembut di kening istri keduanya. “Teganya mereka padaku,” gumamku sembari menahan air mata agar tak jatuh menetes. Harga diriku menahan agar tak menangis. Aku dihinakan di sini. Tanpa persetujuanku, mereka merencanakan pernikahan ini padahal aku masih istri sah dari Mas Emir. “Sabar, Chess. Kamu bisa sewaktu-waktu meninggalkan Emir kalau kamu mau. Kamu bukan wanita yang cuma bergantung sama suami. Kamu mandiri, punya usaha sendiri tanpa mereka tahu.” Rena, sahabatku menguatkanku. Genggamannya menguat di di sela-sela jemariku. “Jangan nangis. Kita balas mereka di waktu yang tepat.” Aku setuju. Entah bagaimana caranya, sakit hati ini harus dibayar tunai. Ibu mertuaku menyuruh Mas Emir menikah lagi karena dia ingin segera punya cucu. Kenapa gak Maira saja yang disuruh menikah? Kenapa malah menyuruh Mas Emir menikah lagi? Dasar mertua gak ada akhlak! Memangnya dia gak sakit hati kalau suaminya nikah lagi? Sebentar! Aku diam sesaat. Tiba-tiba terpikir olehku untuk membuat ayah mertuaku menikah lagi. Bu Hasnah tega sama aku sebagai menantu. Akan kubuat dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Aku menoleh ke Rena lalu berbisik, “Ren, pegawai kita ada yang masih gadis dan agak-agak centil trus mata duitan gak?” Rena menatapku dengan kening mengernyit dalam. “Buat apa kamu nyari pegawai yang seperti itu?” Aku lantas berbisik di telinga Rena sembari menutup dengan telapak tangan agar tak ada yang mendengar. “Akan aku bayar dia buat godain papa mertuaku biar jatuh cinta trus ngebet buat nikahin dia.” Mata Rena melebar. “Agak laen kawanku ini.” Dikiranya aku bercanda. “Gak usah nungguin karma. Sakit hati ini butuh pelampiasan. Dia tega, aku juga bisa tega. Kalau dia sayang sama aku, gak mungkin aku tega sama dia. Dia yang mulai, Ren.” “Kalau ketahuan gimana, Chessy?” Rena tampak khawatir. “Gak akan. Aku akan buat perjanjian sama cewek itu jangan sampai ketahuan. Makanya aku mau cari yang mata duitan. Jaman sekarang siapa yang gak mau duit?” Rena ngangguk-ngangguk dengar ide gak warasku ini. Siapa peduli? Aku cinta Mas Emir, cinta keluarga ini. Kubantu ekonomi keluarga ini tapi mereka gak tahu diri. Mas Emir seminggu yang lalu bilang gak setuju nikah lagi, tapi ucapannya berubah saat Bu Hasnah mengenalkan calon istri keduanya yang memang cantik dan masih gadis. Masih sangat muda. Bahkan baru berumur Sembilan belas tahun. Kata ibu mertua, Inara berasal dari keluarga subur, gak mandul seperti aku. Mereka tidak tahu saja, aku sengaja menunda kehamilan untuk mengetahui sifat asli Mas Emir dan keluarganya. Ternyata keputusanku menunda kehamilan ini benar. Belum ada satu tahun kami menikah, Mas Emir sudah disuruh menikah lagi. Rena lantas menunjukkan satu foto gadis dari handphonenya. “Chess, cocok gak? Bodynya aduhai, anaknya centil, matre.” Aku melihatnya. Cocok sekali dengan yang kumau. “Bawa aku temui dia besok.” Rena mengangguk. “Oke.” Rena menyenggol tanganku saat ibu mertuaku datang mendekat. “Lihat, suamimu begitu bahagia nikah sama Inara,” ucapnya dengan begitu congkaknya. “Iya, Bu.” Aku menjawab pelan, menyamarkan rencana ib-lisku untuknya. Lihat saja, Bu! Akan kubuat juga suamimu bahagia menikah lagi dengan yang lebih muda. *** Ada di KBM App Judul : MADU UNTUK MERTUA (Chessy) Penulis : Inge Lezta

ID 7603600456337739028
🙂
Note 6/10
👁 534 vues
ER
1.12%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #14 (top 7.1%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 06/02/2026 🚫 <60s
🏅 #1 / 15
😄
Score vidéo 7.7/10

"Ayo, Nak. Kita beri mereka sedikit pelajaran." Aku membuka pintu tanpa permisi, membuat mereka semua terse ntak. “Oh, Delia! Tumben datang pagi-pagi. Ada apa, Sayang?” Ibu mertua sok manis. Aku menatap t aj a m ke arah Mas Arham dan Alena yang duduknya berdampingan Aku me nep is tangan Mas Arham yang ingin menggandengku. "Lepas!" Lalu mengeluarkan lembaran foto-foto pernikahan mereka. “Apa ini, Delia?” Ibu bertanya, suaranya bergetar sedikit. Lebih baik kuhentikan sandiwara pura-pura tak tahu malu ini. Aku tersenyum si n is. “Itu, Bu, bukti peng khi an ata n Mas Arham. Bukti bahwa kalian semua mendukungnya menikahi perempuan ini di belakangku. Aku tahu selama ini kalian tidak menganggap aku sebagai bagian dari keluarga ini, tapi aku tidak menyangka kalian bisa se pi ci k ini.” Mas Arham mencoba meraih tanganku kembali, tapi aku men ep isnya. “Sayang, aku bisa jelaskan. Alena ... dia memberiku sesuatu yang kamu tidak bisa berikan,” katanya, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Tanpa rasa berdosa sama sekali atau bahkan meminta maaf padaku, Mas Arham malah memintaku untuk memahaminya. Aku ingin tertawa. Setelah semua yang kulakukan untuknya, setelah semua pe n gor ba n an ini, dia masih punya keberanian mengatakan itu di depanku. Tasya, yang sedari tadi berdiri di sampingku, terlihat terkejut dan ma ra h. “Papah te ga ngomong begitu sama Mama? Padahal kita keluarga, Pah! Papah, benar-benar te ga!” Tasya, anakku berseru, matanya me m era h menahan am ara h. Aku malah kasihan a nabk yang masih dibawah u m ur mendengar dan melihat langsung ke j am nya sikap Papah dan keluarga papahnya itu. Arham me nde sa h. “Tasya, kamu masih muda. Kamu belum mengerti bagaimana hidup itu sebenarnya. Papah ingin punya a na k lagi, dan Mamamu tidak bisa memberikannya pada Papah. Emangnya Papah salah?" Aku merasakan dada ini seperti di h a nt am pa l u go da m. Jadi ini alasan dia menikahi Alena? Karena aku sudah tak mampu memberinya an ak? Napasku ters en dat, namun aku tak ingin mereka tahu betapa ha ncu rnya aku. 'Jangan tunjukkan kelem aha nmu, Delia!' gumamku dalam hati. Sebelum berbicara, ku hirup oksigen agar otakku tak bu ntu seperti mereka. “Jadi, begitu, ya? Kamu pikir ini adalah jalan keluar? Menikah di belakangku? Aku sudah cukup banyak ber ko rba n untuk kamu dan keluargamu, Mas. Dan ini yang aku dapatkan sebagai balasannya?” Arham tidak menjawab. Pandangannya tertunduk, seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Ibu mertua mendekat, menepuk pundakku seolah aku hanya sedang dalam masa ujian biasa. “Delia, tenanglah. Arham masih berhak memiliki istri lain. Kamu, kan, tahu, dalam agama kita, laki-laki itu boleh ber po li ga mi. Kamu sebagai istri pertama harus ridho, Sayang. Surga istri ada di bawah keridhoan suami, dan kalau kamu rela dip oli gam i, maka surga menjadi jaminanmu.” Hah! Kuh em pa skan napas untuk meredakan gej ola k di dada. Aku menahan tawa yang hampir pe c ah. Ia mencoba memberikan nasihat keagamaan padaku, padahal ini jelas bukan tentang agama. Ini tentang mereka yang be r k hia nat, tentang mereka yang men gi nj ak-i nj ak perasaanku tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Jadi, kalian semua sepakat bahwa aku harus menerima ini begitu saja? Bahwa aku harus menerima bahwa suamiku, telah menikah lagi di belakangku?” Aku menggeleng, menatap mereka dengan penuh rasa mu ak. “Kalian benar-benar tidak tahu malu!” Alena hanya duduk di sana, diam se rib u bahasa, menunduk sok ter tin d as dan seolah bukan dia sumber dari semua keka ca u a n ini. Disa dan Putra juga terdiam, tampaknya menikmati drama yang sedang terjadi. Baiklah, kita lihat, siapa yang akan ha nc ur setelah kalian membuatku berubah menjadi mo ns ter! *** Baca di KBM App Judul : Setelah Kau Menduakanku Penulis : Tri Namiranti #trinamiranti #setelahkaumenduakanku #fypシ #cerita

ID 7603596448265030933
😄
Note 7.7/10
👁 850 vues
ER
1.53%
Global : 0.96%
Save rate
0.12%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #1 (top 100%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 06/02/2026 🚫 <60s
🏅 #4 / 15
😐
Score vidéo 5.3/10

"Padma... kamu... benar-benar mau nikah sama dia?" gumam Heru gagap. ​Tiba-tiba, mata Heru mendelik. Tu buhnya lemas seperti kain basah yang baru diperas. Gedebuk! Ia jatuh pingsan tepat di atas kaki Tini yang sedang memakai sepatu hak tinggi runcing. ​"Aaaaa! Mas Heru! Kakiku kena tin dih! Tolong!" jerit Tini histeris, membuat suasana aula yang tadinya tegang berubah menjadi ricuh tak karuan. Beberapa anggota segera membawa Heru keluar dari aula. ​Birendra mengajakku keluar menuju teras aula yang sepi untuk menghirup udara malam yang dingin. Jantungku masih berdebar tak keruan. ​"Pak... Bapak gi la, ya? Apa Bapak lagi demam tinggi?" tanyaku dengan napas memburu. ​Birendra bersandar di pilar bangunan, menatapku dengan senyum tipis yang mematikan. "Ada yang salah dengan pengumuman tadi?" ​"Tadi siang bapak bilang KTP saya buat data rekanan kain! Kenapa jadi buat surat izin nikah? Bapak tahu nggak, saya hampir pingsan di depan Ibu Danyon!" suaraku meninggi karena syok. ​"Padma, dengar saya," Birendra mendekat, suaranya merendah dan dalam. "Saya tidak pernah menggunakan dokumen resmi untuk sekadar sandiwara atau main-main. Surat itu asli. Saya benar-benar akan menikahi kamu." ​Aku terdiam seribu bahasa. "Tapi Bapak itu Kapten... saya cuma penjahit. Apa Bapak nggak malu? Bagaimana kalau karier Bapak terhambat karena memilih saya?" ​Birendra menatapku sangat dalam, tangannya meraih pagar pembatas di belakangku, seolah mengurungku dalam jarak yang sangat dekat. "Karier saya, itu urusan saya. Urusanmu sekarang adalah... besok pagi, Ibu saya akan datang dari Jakarta." ​Aku nyaris pingsan menyusul Heru. "Ibunya bapak mau ke sini? P-Pak... saya belum siap ketemu calon mertua. Apalagi orang kota!" ​"Tenang saja, Padma. Ibu saya orangnya sederhana… asalkan kamu bisa mengambil hatinya, secepat kamu menjahit kebaya hijau tadi. Tapi kalau tidak..." Birendra terkekeh pelan. ​"Siap-siap apa, Pak?!" ​"Siap-siap dicu lik ke Jakarta untuk langsung akad nikah," bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang. Ya ​Allah... ujian apa lagi ini? Menghadapi Tini aku sanggup, tapi menghadapi calon mertua yang orang kota? ​Bersambung… *** Selengkapnya di KBM App Judul: Izinkan Aku Melamarmu (Dikhianati Tunangan, Dilamar Diam-diam) Penulis: Dhea Sukma #fyppppppppppppppppppppppp #lamaran

ID 7603596035516140821
😐
Note 5.3/10
👁 652 vues
ER
0.46%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #4 (top 78.6%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 04/02/2026 🚫 <60s
🏅 #15 / 15
😐
Score vidéo 5.6/10

“Bu Sahara, apakah bisa kembali ke sekolah? Kalila d ema m setelah sempat j at vh dulu dari ayunan.” Jantungku seperti dih ant am palu godam, setelah mendapat kabar dari salah satu guru di sekolah Kalila, Putriku. “Ya Allah! Kok bisa a na k saya jatuh, Miss?!” tanyaku sedikit s en git. “Saya sungguh-sungguh minta maaf. Ini murni karena ket eled oran saya.” Suara Miss Laura terdengar seperti ket ak vtan. “Saya segera kesana sekarang, Miss.” Aku benar-benar p an ik saat ini. “Kami tunggu, Bu. Tadi kami sempat menghubungi Pak Virendra lebih dulu. Tersambung tapi tidak diangkat.” “Mungkin dia sedang rapat, jadi gak bisa dig angg u,” jawabku sekenanya. Aku segera mengakhiri percakapanku dengan Miss Laura. Sejak aku mel ahirk an Kalila, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Suamiku, Virendra Rahandika, seorang General Manajer. Selain tampan, dia juga seorang suami yang romantis juga ayah yang penyayang. Aku segera berlari ke arah halaman. Pak Atmo, supir pribadiku, sudah menunggu. “Ke sekolah Kalila sekarang, Pak,” ucapku dengan p an ik. “Baik, Bu,” jawab Pak Atmo yang sigap membukakan pintu belakang untukku. 15 menit kemudian aku sudah tiba di sekolah. Begitu turun dari mobil, aku segera berlari ke dalam dengan perasaan c em as. Aku disambut oleh Miss Laura, guru yang bertanggung jawab untuk mengajari Kalila. Ketika sampai di ruang kesehatan, aku melihat Kalila terbaring di ranjang kecil, matanya yang biasanya cerah tampak sayu. “Kalila, sayang. Mama sudah di sini." Aku berbisik, mencoba menenangkan hatiku yang berdegup kencang. Dia menatapku, air mata menggenang di sudut matanya. “Mama ... sakit. Badanku juga pegal,” katanya pelan. “Jangan khawatir, Sayang. Kita akan segera ke rumah s ak it ya,” ujarku, berusaha menahan tangis Aku berpamitan pada pihak sekolah. Saat dalam perjalanan menuju rumah s ak it, aku menghubungi Virendra. Sama seperti cerita Miss Laura. Terdengar nada sambungan telepon, namun tidak mendapat respon apapun. “Viren, angkat dong. Kamu beneran lagi rapat ya?” bisikku, setelah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun tak direspon. “Ada lampu merah dulu, Bu. Nunggu sebentar gpp kan?” tanya Pak Atmo. “Gpp, Pak,” jawabku dengan nada c ema s. Sambil menunggu lampu hijau menyala, mataku tiba-tiba tert vmb vk pada mobil sedan hitam yang sangat kukenal memasuki halaman sebuah hotel mewah. Jelas sekali itu mobil milik Virendra. Aku memicingkan mata, mengamati lebih jelas. Benar saja, itu mobil Virendra. Tak lama mobil itu berhenti di depan lobby hotel. Kulihat Viren keluar bersama seorang wanita yg langsung menggandeng tangan Viren dengan mesra, lalu disambut Viren yang langsung men gec vp pipi sang wanita lalu mereka melangkah masuk ke dalam hotel. Jantungku serasa dit vs vk-t vs vk. Tidak ada keraguan lagi, Virendra b ers elingk vh. Dia men gkhian atiku, men gkhia nati keluarga kami. Aku ingin be rter iak, ingin melepaskan seluruh kem arah an yang b ergej olak di d ad aku. Tapi, aku masih m emel vk Kalila yang tak sadarkan diri. Sungguh, aku tak sanggup lagi menahan air mataku. Aku harus menghadapi kenyataan p ah it bahwa suamiku, telah men vs vkku dari belakang. *** Setibanya di rumah s ak it, Kalila langsung ditangani oleh tim dokter ahli. Setelah menunggu selama satu jam lebih, Seorang dokter muncul. Aku segera mendekat. “Gimana kondisi putri saya, dok?” Dokter itu memandangku dengan tatapan serius. “Bu, silahkan ikuti saya ke r van g kerja saya. Ada yang harus saya sampaikan.” Setibanya di sana, aku diperlihatkan sebuah laporan laboratorium. “Ini apa, dok?” “Berdasarkan laporan laboratorium, ada kemungkinan putri Anda me nder ita le uke mia,” Duniaku tiba-tiba seakan berhenti berputar. “Leu-le uke mia?” *** Judul: TAMAT || Tunggu Aku M at i, Jika Ingin Berc er ai Penulis: Alana Wulan Sudah tamat di KBM App #fypシ゚viral #kbmapp😊😊baca #fyp

ID 7602989845547584789
😐
Note 5.6/10
👁 485 vues
ER
0.82%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #15 (top 0%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 03/02/2026 🚫 <60s
🏅 #12 / 15
🙂
Score vidéo 6/10

Setelah tahu aku menikah lagi, kukira istriku akan marah besar tapi dia justru… *** Keluar dari kmar Renata, Dariel berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa. Kalau malam ruang tamu di biarkan gelap dan Dariel pun menyalakan lampu duduk yang berada di meja sudut sofa. Ruang tamu pun terang meski temaram karena lampu berwarna jingga. Dariel lama duduk termenung, ingat Renata yang kini mungkin memben cinya karena sakit hati padanya dan Dariel juga ingat Lufita yang dia tinggalkan di rumah sendirian. Lufita juga pasti lagi sedih memikirkan semuanya apalagi Lufita sedang hmil. Diam sambil memikirkan semuanya, perlahan Dariel meraih ponselnya, membuka halaman galeri. Dariel melihat foto-foto Renata dan ank-anknya yang lucu. Dariel tersenyum bahagia lalu Dariel menggerakan jemarinya lagi untuk melihat foto berikutnya dan Dariel pun menemukan foto Lufita yang sedang berdiri dengan tangan memegang perutnya yang mulai membu ncit. Dariel diam menatap foto itu. Dariel ingat betapa Dariel sangat mencintai Lufita sehingga nekat menikahinya tanpa dia sadari kalau dia sudah beristri. Lufita sangat cantik dan baik sehingga Dariel ingin menyayanginya. Lufita membuat Dariel bahagia, bahagia yang beda dengan bahagia yang Dariel rasakan saat pertama kali menikah dengan Renata. Meski saat itu Dariel juga bahagia menikah dengan Renata dan sampai saat ini pun masih merasakan bahagianya, tapi bahagia yang berbeda. Dariel tidak tahu rasa bahagia itu akan terus bertahan atau tidak tapi Dariel berjanji sejak awal, akan terus mempertahankan bahagianya itu dengan Renata dan Lufita juga ank-ank. Meski Dariel tahu itu akan rumit. “Abi itu foto siapa?” Wajah mungil Aleena menyembul dari belakang sofa. “Astaghfirullah,” Dariel tersentak kaget, ponsel di tangannya sampai jatuh. “Kenapa Abi, kok kaget?” Aleena bertanya polos. “Sayang, tentu saja Abi kaget, Aleena muncul dari belakang,” jawab Dariel. Aleena tertawa kecil, matanya menyipit dan gigi-gigi kecilnya tampak kecil-kecil dan bersih, sangat lucu menggemaskan. “Habisnya Abi malem-malem duduk sendiri di tempat gelap sambil memandangi layar ponsel, jadi Aleena intip deh,” ucap Aleena, Dariel menarik nafas menghilangkan kekagetannya. “Sini sayang,” Dariel menyuruh Aleena mendekatinya. Aleena pun menurut berjalan memutar untuk mendekati Abinya, lantas duduk di samping Abinya, “Kenapa bangun, bukannya dah tidur?” Dariel memeeluk Aleena, menciiiium kepala Aleena. “Adek nangis berisik jadi terbangun terus lihat Abi keluar kmar, sudah Aleena ikutin deh kemari,” kata Aleena, Dariel mencu bit Leena gemas, Leena pasti akan seperti itu sikap keponya kambuh. “Baiklah, sekarang ayo bobo lagi, Abi temani,” ajak Dariel. “Nggak mau, Leena ingin lihat Foto perempuan yang tadi,” kata Leena membuat Dariel terkejut. “Foto siapa?” tanya Daniel “Foto perempuan cantik tadi yang sedang ha mil,” kata Aleena membuat Dariel makin terkejut. “Itu hanya teman Abi, bukan siapa-siapa?” jawab Dariel sambil memeluk Leena. *** Judul : Misteri Pernikahan Kedua Suamiku Penulis : LoveNadifa Lanjut baca di KBM App #bismillahfyp #storytime #wa

ID 7602408900448537876
🙂
Note 6/10
👁 570 vues
ER
1.05%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #12 (top 21.4%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 02/02/2026 🚫 <60s
🏅 #2 / 15
🔥
Score vidéo 8.8/10

Tiga hari telah berlalu sejak Anara dilarikan ke rumah sak it dan mel ahirkan putrinya. Namun selama waktu itu, satu nama yang seharusnya paling dinanti justru tak pernah muncul. Fabian. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, bahkan sekadar kabar singkat pun tidak. Seolah Anara dan b ayi yang baru ia lah irkan itu benar-benar leny ap dari hidup pria tersebut. Anara tidak lagi mencoba menghubungi suaminya. Bukan karena tidak sempat, melainkan karena hatinya sudah terlalu lelah untuk berharap. Rasa kec ewa itu sudah berubah menjadi kepvtvsasaan yang tenang. Ia tidak lagi menang is hist eris, tidak juga mar ah berlebihan. Hanya saja ia sudah menyerah. Rumah tangga yang ia jaga dengan sepenuh hati, kini terasa kosong dan tidak lagi layak diperjuangkan seorang diri. Beruntung Anara tidak sepenuhnya sendiri. Ada putri kecil yang kini selalu berada di sisinya. Setiap kali per ih di da da itu datang tanpa aba-aba, Anara hanya perlu menatap wajah mungil b ayi itu. Hidung kecil, bi bir merah alami, dan gengg aman tangan yang begitu rapvh. Semuanya menjadi penawar paling ampvh. Demi putrinya, akhirnya Anara berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. "Baik, Pak. Terima kasih banyak," ucap Anara pelan sebelum mengakhiri panggilan telepon. Anara meletakkan ponselnya di samping tempat tidvr tepat ketika pintu kam ar raw at inap terbuka. Riko dan Erni, istrinya, masuk bersamaan dengan senyum hangat yang selalu berusaha mereka pertahankan. Beberapa hari ini, hanya dua orang itulah yang setia berada di sisi Anara. Membantu, menemani, dan memastikan ia tidak merasa sendirian. Dan untuk itu, Anara sungguh merasa bersyukur. "Selamat siang," sapa Erni ceria sambil mengangkat kantong makanan. "Aku bawakan makanan buatmu. Biar kamu nggak makan makanan rumah sak it terus." Anara tersenyum kecil. "Terima kasih banyak, Mbak." Riko menarik kursi dan duduk tidak jauh dari tempat tidvr Anara. Sementara Erni meletakkan makanan di meja, lalu langsung mendekat ke box b ayi. Tatapannya melembut saat melihat si kecil yang tertidvr pulas. "MasyaAllah, makin cantik saja keponakan Tante," gumam Erni sambil mengvsap pipi b ayi itu dengan jari telunjuknya. Riko berdeham pelan sebelum akhirnya bertanya. Nada suaranya jelas menahan em osi. "Bagaimana, Anara? Sudah ada kabar dari Fabian? Dia menghubungimu? Atau setidaknya datang ke sini?" Pertanyaan itu keluar beruntun, seolah Riko masih berharap mendengar kabar baik. Namun Anara hanya menggeleng pelan. Wajahnya menyiratkan kekec ewaan yang bahkan tak lagi bisa ia sembunyikan. "Mas Abi sama sekali nggak ada kabar," jawabnya lirih. "Aku menyerah, Mas. Aku sudah nggak kvat lagi." Riko langsung berdiri, rahangnya meng eras, tangannya mengepal kvat. "Breng sek!" vmpatnya. "Fabian benar-benar keterlalvan! Bisa-bisanya dia menel antarkan kalian seperti ini. Istri dan an aknya sendiri! Lihat saja nanti kalau aku ketemu dia, pasti akan kuh ajar habis-habisan!" Erni menatap suaminya sejenak, lalu segera mendekat ke Anara. Ia menggengg am dan mengvsap punggung tangan Anara dengan lembvt, seolah ingin menyalurkan kekuatan. "Nara," panggilnya hati-hati. "Setelah ini, apa keputusanmu?" Anara memejamkan mata sesaat. Dad anya naik turun, bukan karena ragu, melainkan karena berusaha meneguhkan hati sendiri. "Aku sudah menghubungi pengacara, Mbak," jawabnya. "Aku mantap untuk berc erai dengan Mas Abi." *** Baca di aplikasi KBM App Judul : SEBAIKNYA BERPISAH Penulis : Richan25 #fyppppppppppppppppppppppp #foryou #bismillahfyp

ID 7602285353516436756
🔥
Note 8.8/10
👁 690 vues
ER
3.04%
Global : 0.96%
Save rate
0.58%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #2 (top 92.9%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 31/01/2026 🚫 <60s
🏅 #5 / 15
😐
Score vidéo 5.7/10

"Silahkan lakukan tugasmu sebagai istri! Aku sudah menepati janjiku untuk menikahimu." "Baiklah Mas." Demi bisa menyentuhnya, aku terpaksa menikahi gadis bercadar yang kusewa dari sebuah klub malam. Kupikir ia hanya mengerjaiku dan sengaja menutupi wajah jeleknya. Namun, dugaanku salah. Di malam pertama, saat ia melepaskan cadar dan pakaiannya, aku terpesona ternyata dia .... *** Setibanya di rumah, aku langsung membawa Raisa masuk ke dalam, lalu ke ka marku. Untuk pertama kalinya, ada wanita asing di ruangan ini. Aku selalu membayangkan hanya istri sahku yang akan menempati rumah ini bersamaku. "Kenapa rumah ini sepi, Tuan?" tanyanya, suaranya terdengar ragu. "Aku tinggal sendiri. Kenapa, Raisa, apa kamu takut? Dan satu hal lagi, jangan panggil aku 'Tuan'. Aku bukan majikanmu. Cukup panggil aku Mas Erlangga," jawabku tegas, membuat gadis itu terdiam. "Baik, Mas. Aku sama sekali tidak takut, hanya..." "Sudah cukup! Aku akan membersihkan diri. Sebaiknya kamu siap-siap. Bukankah kamu berjanji akan memberikan pelayanan terbaik karena aku sudah menikahimu? Jangan lupakan, aku sudah memb ayar mahal untuk mengeluarkanmu dari tempat itu!" Aku pergi meninggalkannya. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Sebenarnya aku tidak berniat men yewa gadis malam untuk memenuhi hasratku, tapi rasa kecewaku pada Clara membuatku gelap mata. Namun, entah kenapa, sejak pertemuanku dengan Raisa, ada rasa iba yang tumbuh. Niatku untuk menyentuhnya sedikitpun tidak ada. Aku justru hanya penasaran dengan kehidupan di balik cadarnya, yang kurasa sangat menyedihkan. Setelah membersihkan diri, aku keluar perlahan. Aku tercekat, mencoba menelan saliva dengan susah payah. Di hadapanku, Raisa sudah melepaskan cadar dan jilbab panjangnya. Rambutnya terurai panjang. Dia begitu cantik dan mempesona. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik, bi birnya tipis, dan bola mata cokelatnya begitu indah. Aku pikir dia gadis berwajah biasa yang dikirim ke tempat itu, karena tidak ada yang mau menyewanya. Mungkin mereka mengira di balik cadarnya tidak ada keindahan. Tapi hari ini, aku melihat wajah yang jauh lebih cantik dari Clara, meskipun usianya masih sangat muda. "Mas Erlangga, maafkan aku. Aku tidak seharusnya berganti pakaian di sini," ucapnya gugup. "Permainan apa lagi ini, Raisa? Kamu sudah di rumahku, di kamar suamimu sendiri. Untuk apa merasa malu? Anggap saja ini kamarmu juga," jawabku, perlahan mendekati gadis itu. Jantungku berdebar kencang. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sejak putus dengan Clara. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Di saat pertama kali dia menjadi istriku? "Ternyata kamu cantik," bisikku. "Aku pikir di balik cadarmu, wajahmu tidak cantik." "Aku sudah bercadar sejak masih sekolah. Tidak ada satu pun laki-laki yang pernah melihat wajahku," jawabnya. "Untuk pertama kalinya, Mas Erlangga yang melihatnya." Aku terkesima. Apa yang dia katakan itu benar? Aku laki-laki pertama yang melihat wajah indahnya? Apakah dia bercanda? Atau dia sengaja memujiku agar aku bisa cepat menyelesaikannya dan membiarkannya pergi? "Lepaskan pakaianmu dan layani aku," pintaku, mengulang kata-kata yang sama saat pertama kali kami bertemu. *** Judul Novel : Kukira Gadis Malam Ternyata Istri Idaman Penulis : Raradika07 Ada di KBM App #bismillahfyp #kbmapp😊😊baca #novel

ID 7601526100321209620
😐
Note 5.7/10
👁 649 vues
ER
0.77%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #5 (top 71.4%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 31/01/2026 🚫 <60s
🏅 #9 / 15
😐
Score vidéo 5.7/10

Bab 4 (Hidangan yang Terbuang) ​“Apa kamu sedang mencoba me ra cu ni saya perlahan dengan masakan sam pah ini, Arumi?” ​Dentang sendok perak yang dilempar ka sar ke atas piring porselen memicu keheningan yang men ce kam di ruang makan pagi itu. Arumi yang baru saja meletakkan mangkuk nasi goreng hangat, terpaku di tempatnya berdiri. Ia melihat ibu mertuanya mengelap bi bir nya dengan serbet makan, seolah-olah baru saja menelan sesuatu yang pahit dan tidak enak sama sekali. ​Pagi itu, Arumi sudah bangun sejak sebelum fajar menyapa. Setelah malam yang penuh air mata dan peng khi a na tan kecil di balik pintu ka mar mertuanya, ia memilih mengadu kepada Allah di atas sajadah. Ia mencoba menelan pahitnya kejadian semalam dengan menyibukkan diri di dapur. Arumi menyiapkan sarapan terbaik, nasi goreng rempah kesukaan Harland lengkap dengan telur ma ta sapi dan acar segar. Ia menata meja makan dengan sangat rapi, memastikan setiap sendok dan garpu lurus sempurna. Ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah istri yang cekatan dan penuh bakti, meski hatinya masih berdenyut nye ri mengingat nota an ca man dalam map biru itu. ​Harland turun dari lantai bawah dengan wajah lesu. Kantung matanya menghitam karena kurang ti dur setelah semalaman menjaga ibunya yang pura-pura sakit. Saat men ci um aroma masakan Arumi, Harland sempat tersenyum tipis. ​“Harum sekali, Sa yang. Kamu masak nasi goreng rempah?” tanya Harland sembari menarik kursi. ​“Iya, Mas. Semoga Mas suka,” jawab Arumi lembut. ​Namun, senyum Harland segera memudar saat sang mama muncul dengan langkah ang kuh. Wanita itu tidak mem ba las sapaan pagi Arumi dan langsung duduk di kursi utama dengan wajah kaku. Matanya menatap meja makan dengan pandangan merendahkan. ​“Mama sudah merasa lebih baik?” Harland bertanya penuh perhatian. ​“Bagaimana bisa lebih baik kalau bangun pagi langsung disambut aroma bumbu yang terlalu menyengat begini? Ini rumah, Harland, bukan warung pinggir jalan,” jawab Sarah ke tus. ​Sarah mengambil satu suapan kecil nasi goreng itu. Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi penuh kejengkelan. Ia langsung melemparkan sendoknya hingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. ​“Nasi ini lembek sekali. Kamu tidak bisa membedakan mana nasi untuk dimakan manusia dan mana bubur untuk ternak? Suhunya juga dingin. Kamu berniat merusak lambung saya yang sedang sakit ini?” cecar Sarah tanpa ampun. ​Harland mencoba membela istrinya. Ia menyuap nasi itu dengan lahap. “Ini enak, Ma. Pas di li dah Harland. Teksturnya juga pas, kok.” ​“Kamu itu sudah bu ta karena cinta, jadi li dah mu pun ikut ma ti rasa!” Sarah mem ba las dengan batuk yang dibuat-buat, lalu memegangi u l u ha ti nya. “Duh, perih sekali. Lam bung Mama mendadak panas kena bumbu mu ra han ini.” ​Sarah kemudian ber te riak memanggil asisten rumah tangga. “Yuni! Sini kamu!” ​Yuni datang dengan wa jah menunduk ketakutan. “Iya, Nyonya Besar?” ​“Ambil semua makanan ini. Bu ang ke tempat sampah sekarang juga! Jangan biarkan ada sisa di meja saya!” perintah Ibu Sarah dengan suara menggelegar. ​Arumi hanya bisa berdiri mematung. Ma ta nya terasa panas saat melihat kerja ke ras nya sejak subuh dipindahkan ke kantong plastik hitam oleh Yuni. Harland yang terjepit di antara rasa la par dan baktinya pada sang ibu hanya bisa terdiam. Ia sesekali memberikan tatapan maaf yang kosong, tapi tidak berani bersuara lebih lanjut. ​“Yuni, pesan sarapan dari restoran ho tel bintang lima langganan biasa. Aku tidak mau ma ti konyol karena salah makan,” tambah Sarah. ​Suasana sarapan berubah menjadi kaku saat makanan kiriman restoran tiba. Di sela-sela makannya yang anggun, Sarah mulai membuka percakapan yang membuat Arumi semakin terpojok. Bersambung. *** Judul: ISTRI PILIHAN TAPI BUKAN MENANTU IDAMAN Penulis: Fitoralo_Theoneandonly Tayang di KBM App #bismillahfyp #storytime

ID 7601455668859571476
😐
Note 5.7/10
👁 640 vues
ER
0.78%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #9 (top 42.9%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 29/01/2026 🚫 <60s
🏅 #7 / 15
😐
Score vidéo 5.1/10

Ibu bilang Rina sering menghamburkan uangku. Kuputuskan untuk memberikan gajiku pada Ibu. Setelah itu Rina berubah. Pasti marah karena jalur keuangannya kupotong. Lalu, suatu hari Ibu mengirimkan foto ke ponselku. “Lihat sendiri, Den. Itu bukti Rina selingkuh. Dia nggak pantas jadi istrimu,” kata Ibu waktu itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuduh Rina berselingkuh. Ketika dia mencoba menjelaskan, aku tidak mau mendengarnya. Panggilan telepon darinya kuhindari. Pesan-pesan yang dia kirim, tidak kubaca. Atas desakan Ibu, aku menceraikannya. Aku membiarkan Ibu yang mengurus semuanya. Yang lebih buruk lagi, aku membiarkan Ibu mengusir Rina dari rumah. Dia pergi tanpa Rafa, karena Ibu bersikeras putraku harus tetap tinggal bersama keluarga kami. Aku tidak membela Rina. Apakah semua ini kesalahan Rina, ataukah aku yang terlalu mudah mempercayai apa yang dikatakan Ibu? “Aku harus pulang ke Indonesia.” Untungnya, selama ini aku tidak mengirimkan semua uang hasil jerih payahku ke rumah. Seorang teman baik pernah memberiku nasihat menyimpan sendiri sebagian gaji. Gaji bulan ini belum kukirimkan ke Ibu, dan sengaja membiarkan begitu. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak yakin apakah setiap uang yang kukirim benar-benar digunakan sesuai kebutuhannya, atau hanya menjadi alat untuk mengendalikan hidupku dan mungkin hidup Rina juga. Aku mengurus semua dokumen dan tiket kepulanganku dengan cepat. Namun, aku memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun tentang rencanaku ini. Tidak Ibu, Maya dan juga teman-teman di kampung. Aku ingin menyelidiki semuanya sendiri. Tanpa intervensi. Tanpa pengaruh siapapun. Dalam perjalanan menuju bandara, pikiranku dipenuhi bayangan-bayangan dari masa lalu. Wajah Rina muncul di benakku. Senyumnya, tawa kecilnya saat Rafa mulai belajar berjalan, bahkan air matanya saat aku berpamitan untuk berangkat ke Jepang. Apakah aku telah salah menilainya? Apakah aku terlalu mudah percaya pada apa yang dikatakan ibu? Aku juga teringat Rafa. Aku meninggalkan anakku dalam pengasuhan Ibu, dengan keyakinan bahwa dia akan dirawat dengan baik. Namun, benarkah? Atau selama ini aku hanya menutup mata pada sesuatu yang lebih besar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku sepanjang perjalanan pulang. Akan tetapi satu hal pasti. “Setelah tiba di rumah, aku tidak akan lagi menjadi Dendra yang sama seperti dulu!” tekadku penuh keyakinan. Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku tiba di kampung halamanku. Dengan penyamaran seadanya. Topi hitam, jaket hoodie dan masker, aku memastikan tidak ada yang mengenaliku. Hanya ransel berukuran sedang, berisikan pakaianku yang tak banyak dan masih bisa ditenteng. Aku tidak ingin kehadiranku diketahui, setidaknya belum. Tujuanku jelas, mencari tahu kebenaran tanpa terpengaruh cerita siapa pun. Setelah perjalanan jauh, akhirnya aku tiba di depan rumahku. “I—ini rumahku?” Jantungku seperti berhenti berdetak. Mataku bahkan terasa pedih terus melototin rumah usang di hadapanku. Tubvhku bahkan hampir limpung, tak percaya dengan apa yang sedang kusaksikan. Foto sebuah rumah megah dengan cat tembok yang masih baru, pagar tinggi yang kokoh, dan taman kecil yang rapi di depannya. Aku ingat betapa bangganya Ibu ketika bercerita bahwa uang yang kukirimkan cukup untuk mengubah rumah sederhana kami menjadi lebih baik. Namun sekarang, rumah di hadapanku masih sama seperti dulu. Tidak ada perubahan berarti. Cat temboknya kusam, beberapa bagian bahkan mengelupas. Atapnya juga terlihat rapuh, seolah belum pernah diperbaiki sejak bertahun-tahun lalu. Aku memandang rumah itu lekat-lekat. Berusaha mencari sesuatu yang sesuai dengan foto yang dikirimkan Ibu. Tidak ada. Semuanya tampak persis seperti terakhir kali aku meninggalkannya. “Jadi, ke mana semua uang yang kukirimkan selama ini?” *** Judul: Gara-gara Posting Rumah Penulis: Disi Halimah Ada di KBM App #rumah #fypage #anakrantaumalaysia

ID 7600694326217149716
😐
Note 5.1/10
👁 641 vues
ER
0.31%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #7 (top 57.1%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 28/01/2026 🚫 <60s
🏅 #6 / 15
😄
Score vidéo 7.4/10

"Selamat ya, Bu. Dari hasil pemeriksaan dan tes laboratorium, ternyata Ibu sedang hamil. Usia kandungannya kira-kira lima minggu." Perempuan itu mendongak pelan, matanya membulat, napasnya tercekat sesaat seakan tak percaya. Tangannya refleks menyentuh perut yang masih datar. Ia menoleh ke arah sahabatnya yang duduk di sebelah, wajahnya penuh tanya, nyaris tak percaya. Sahabatnya mengangguk pelan, lalu menggenggam tangannya erat tak perlu banyak kata, kehangatan itu sudah cukup membuat air matanya jatuh tanpa diminta. "Masih sangat awal, tapi semuanya tampak normal. Kita akan pastikan kandungannya sehat dengan kontrol rutin setiap bulan." Lanjut Dokter tersebut dengan ramah. *** Marwah turun dari mobil dengan senyum mengembang yang tak bisa ia sembunyikan. Satu tangannya masih menempel di perutnya, seolah menyapa kehidupan mungil yang baru ia tahu hadir di sana. "Kalau sudah memberitahu tahu suamimu, nanti kabari aku ya! Aku ingin tahu ekspresinya." Ujar Nadin sambil melambaikan tangannya. Marwah tertawa sambil mengangguk pelan, membalas lambaian tangan saat sahabatnya itu melajukan mobilnya. Marwah berjalan sambil bersenandung kecil, rasanya bahagia yang ia rasakan kini benar-benar tak dapat ia sembunyikan. "Hari ini akan jadi hari yang manis," Gumamnya masih dengan senyum bahagia menghiasi sudut bibirnya. Langkahnya ringan, ia membayangkan mata suaminya Fandy yang akan melebar terkejut, lalu senyum yang tumbuh perlahan, juga pelukan hangat, mungkin pelukan pertama yang benar-benar berarti sejak pernikahan mereka dimulai. Ia membuka pintu pagar dengan hati riang, menyelinap pelan menuju pintu depan, bersiap memberikan kejutan yang tak akan terlupakan. Namun langkahnya terhenti seketika. Dari balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, suara Fandy terdengar. Tapi ia tidak seorang diri, Fandy terdengar sedang berbicara dengan seseorang. Seorang perempuan dan suara itu tak asing di pendengarannya, dia Medina wanita yang diakui Fandy sebagai kekasihnya. "Aku capek, Fan. Aku capek hanya menjadi bayanganmu. Kapan kamu akan menceraikan wanita itu, ini sudah tiga tahun bahkan ayahmu sudah meninggal, sudah terlalu lama aku menunggu semua janjimu, Fan! Kamu harus tentukan sekarang, pilih aku atau dia!" Marwah membeku ditempatnya, napasnya terasa sekaan terhenti saat itu juga. "Aku butuh waktu, Din. Tolonglah jangan begini, aku akan secepatnya menalak dia dan menikahimu sayang jadi bersabarlah sebentar lagi. Lagipula kamu-kan tahu pernikahanku dengan wanita itu hanya perjanjian antara orangtuaku pada almarhum orangtuanya, jadi kamu tenang saja posisimu tak akan pernah tergantikan oleh wanita kampung seperti dia," jawab Fandy membuat hati Marwah bagai ditusuk sembilu "Aku akan bu nuh diri kalau kamu terus ngulur waktu, Fandy! Kamu tahu-kan aku bisa melakukan itu. Kamu sudah berjanji akan mence raikan dia, kamu sudah berjanji akan menikahi aku. Tiga tahun, Fan. Tiga tahun aku menunggu!" Marwah menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar. Tangannya yang semula ingin meraih gagang pintu kini mengepal erat, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. "Kamu bilang sendiri kamu terpaksa menikahinya. Kamu bilang dia tidak pernah bisa membahagiakan kamu. Jadi kenapa masih bertahan? Kenapa tidak bisa secepatnya melepaskan wanita itu?!" Air mata jatuh di pipi Marwah, wanita itu menangis dalam diam rasa sakit menghantam setiap sudut dihatinya. Hatinya yang tadinya mengembang karena harapan, kini remuk dalam sekejap. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah, lalu berhenti lagi. Bayi kecil dalam rahimnya terasa lebih nyata dan lebih terluka sekarang. Ia ingin berteriak, ingin masuk dan menampar kenyataan itu. Tapi tu buhnya membeku, seperti ditarik kembali ke bumi setelah sebentar saja terbang ke langit biru. *** Judul: Bias Senja (Setelah Talak Tiga) Penulis : Fatimah humaira 🍁 KBM App #fyppppppppppppppppppppppp #bismillahfyp #fory

ID 7600384036938239253
😄
Note 7.4/10
👁 645 vues
ER
0.93%
Global : 0.96%
Save rate
0.47%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #6 (top 64.3%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 27/01/2026 🚫 <60s
🏅 #3 / 15
🔥
Score vidéo 8/10

“Kau pikir aku b o doh? Sinta baru saja meneleponku. Dia menangis karena kamu tidak hanya mempermalukan tapi juga meng-an-camnya." Praska makin meradang. "Sinta gak mungkin ngadu kalau kamu tidak keterlaluan. Dia terlalu baik hati hanya untuk mengeluh." Riani menekan dua bibirnya rapat-rapat. Entah kenapa ingin tertawa mendengar penilaian Praska pada gvndiknya itu. Ia menatap ke arah jendela sebentar, menahan diri agar tidak tertawa. Sungguh, betapa mudahnya lelaki itu dipermainkan air mata. “Aneh,” ujarnya ringan. “Aku bahkan gak tahu masalah apa yang sedang kamu bicarakan.” Ia mengibaskan tangan, seolah mengusir udara panas yang menempel di kulit. Praska semakin kesal. Sikap Riani yang tak peduli itu semakin memancing amaarahnya. “Gak usah pura-pura polos, Riani. Aku tahu kamu sengaja menyulitkan dia biar gak betah di rumah ini!” Praska memberi tuduhan. “Kau seperti itu karena sebenarnya gak mau cerai sama aku, kan?” Praska mendengkus. Nada suaranya penuh keyakinan yang bodoh. “Kalau kau bermurah hati sama Sinta, mungkin aku bisa pertimbangkan ulang.” Riani menegakkan tubuhnya. Tangan kirinya bersedekap di dada, dan dagunya terangkat sedikit. Ia tidak percaya Praska bisa sebuta itu. “Praska, stop.” Suaranya tegas. “Aku gak tahu maksudmu apa.” Praska berjalan mengelilingi meja, mendekat ke arahnya. Wajahnya memerah, matanya menatap dengan tuduhan yang nyaris buta. “Kenapa kau sejahat itu?” Praska menahan napas, nadanya bergetar. “Kenapa kau larang pembantu melayani Sinta? Kenapa kau suruh mereka abaikan a n a k ku?” Riani mendengkus pelan. “Sudah selesai?” tanyanya datar. “Kau selalu pura-pura tenang. Padahal jelas-jelas kamu iri!” “Aku? Iri?” Riani mengulang dengan nada tak percaya. Ia menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. “Lucu sekali, Praska,” ketusnya. “Aku bahkan gak punya waktu untuk memikirkanmu, apalagi menyiksa selingkvhanmu.” Riani merengut ketus. "Tentang gundikmu," katanya lagi, "Biar kujelaskan sekali lagi saja." Riani berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Praska. Suaranya datar, tapi matanya menatap tajam. “Kalau dia merasa terhina, itu bukan salahku. Aku tidak menendangnya, tidak menamparnya, tidak mengusirnya. Aku hanya bicara.” “Bicara?” Praska mendengus. “Ya, bicara,” balas Riani. “Dia yang menggangguku duluan,” ujarnya, “padahal sudah kubilang, dia bisa memilikimu sepenuhnya. Aku tak peduli.” Riani menatap lurus ke arah Praska. Tak ada air mata. Tak ada sedih, hanya lelah yang terpancar di wajahnya karena seharian bekerja. “Hanya itu,” Riani menambahkan, suaranya tenang. “Aku tidak pernah minta siapa pun memboikot makanannya. Aku tidak pernah melarang pembantu untuk melayaninya. Kalau kau mau cari pelampiasan, kau salah orang, Praska.” Praska membuka mulut, berusaha menata kata yang tercekat di tenggorokan. “Ibu yang melarang pembantu untuk mengurus dan menyiapkan makan untuk gvndik dan a n a k harammu.” Suara itu dalam, mantap, penuh kewibawaan. Riani menoleh, pelan, sementara Praska menegang seketika. “Ibu?” suaranya bergetar pelan, nyaris terhenyak. “Ibu gak pernah ngajarin kamu untuk gak tahu malu, Praska,” katanya datar, tapi nadanya menusuk. “Gvndik dan a n a k harammu, kenapa harus pakai u a n g Riani untuk mengurusnya?” Praska menunduk, wajahnya memucat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Sementara Riani berdiri tenang, hanya memandangi lantai, memilih untuk tidak terlibat. “Gaji pembantu di rumah ini dari Riani,” katanya lagi, suaranya kini lebih pelan namun sangat tegas. “U a n g dapur juga dari Riani.” Nurmala menatap putranya ketus. “Dia gak punya kewajiban melayani gvndik dan an a k harammu!" *** Judul: Balasan Atas Pengkhianatan Penulis: LiaRoeslan Aplikasi: KBM App #foryou #fyppppppppppppppppppppppp #riani

ID 7600029056771345685
🔥
Note 8/10
👁 689 vues
ER
1.31%
Global : 0.96%
Save rate
0.29%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #3 (top 85.7%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 26/01/2026 🚫 <60s
🏅 #8 / 15
😕
Score vidéo 4.9/10

"Pulang telat lagi. Abis anterin klien yang mana tadi?" "Apa maksudmu? Kau lan cang buka ponselku?" suaraku meninggi. Kaget dengan pertanyaan Tiara yang tiba-tiba. "Aku cuma nanya, Andra. Aldo nunggu kamu buat makan malam bersama, tapi ayahnya bahkan lupa untuk sekedar ngabarin lewat W A." "Ara, aku capek. Bisa kan nggak usah besarin hal kecil gini?" "Aku juga capek, Andra." "Capek? Di rumah aja bisa capek ya? Kayak yang kerja aja." Mendengar itu, Tiara langsung membisu. Wajahnya sontak berubah dan tanpa kata, dia pergi begitu saja. Baguslah dia sadar diri. Memangnya seharian ngapain aja cuma jaga ank doang. Pekerjaan rumah sudah ada Bu Ina yang membereskan semuanya. Hari-hari setelahnya Tiara tidak lagi protes jika aku pulang telat atau bahkan sampai menginap. Terakhir, dia hanya bilang kalau mau kerja lagi karena Aldo sudah besar. Tentu saja aku mengiyakan. Seminggu berlalu begitu saja. Tanpa protes, tanpa drama. Aku benar-benar menikmati suasana begini. Sampai suatu sore saat aku pulang kerja, di sofa ruang tamu kami duduk seorang wanita yang sangat aku kenali. "Ara, dia siapa?" tanyaku reflek saat melihat mereka berdua duduk bersama. "Andra, kenalin, ini Sinta. Pengasuh baru untuk Aldo. Aku pilih sendiri dari Agency yang pernah Mama rekomendasikan itu. Sinta, ini suami saya." Tenggorokanku langsung tercekat. Bahkan aku hampir tak berani menatap. Sinta? Bagaimana bisa Tiara membawa dia ke rumah kami. Sebagai pengasuh Aldo? Ini giila. "Halo, Pak Andra, apa kabar?" Aku hanya bisa mengangguk kaku. Tak berani menatap gadis itu. "Tiara, kita perlu bicara." Aku masuk ke kmar dengan gusar. Tiara mengikutiku dari belakang. "Tiara, apa maksudmu mengambil pengasuh tanpa berdiskusi dulu denganku?" "Apa ada masalah dengan pilihanku?" ucap Tiara balik bertanya. "Bukan begitu, Ara. Kita tidak kenal dia, gimana latar belakangnya." "Aku sudah mengincarnya sejak lama. Kau tak perlu khawatir. Atau kau kenal dia? Tadi kayak kaget banget saat pertama melihatnya." Aku menarik nafas dalam-dalam. Jangan sampai Tiara curiga. Tapi tatapannya malah membuatku takut. Harusnya aku tak perlu bersikap berlebihan begini. "Tidak. Bagaimana aku mengenalnya. Aku hanya kaget tiba-tiba ada orang asing di rumah kita." "Kamu tuh aneh, Andra. Ini bukan pertama kali kita kedatangan orang asing." "Tapi Tiara ... Aku punya firasat kurang baik." "Firasat? Itu hanya perasaanmu saja. Sinta udah aku incar sejak lama. Untung saja tadi nggak keduluan diambil Bu Fela." Tiara berkata seolah dia tidak tahu apa-apa. Atau dia memang tidak sengaja membawa Sinta ke rumah ini? Siallll. Diantara banyak pengasuh, kenapa harus Sinta yang dipilih Tiara? Hari-hari berikutnya aku seperti berjalan di atas bara. Bagaimana tidak? Sinta yang biasa kutemui di luar rumah, kini malah kami tinggal satu atap tapi tak bisa sebebas di luar. Bahkan kami malah seperti terje bak dalam sangkar. Tiara melihat kami dengan senyuman manis yang terasa pahit. Setiap tatapannya seperti jeba kan yang sengaja dia tanam. Malam itu akhirnya aku punya kesempatan untuk bicara dengan Sinta. Aku mengendap keluar dari kmar setelah memastikan Tiara sudah terlelap. "Sayang!" seru Sinta antusias saat aku masuk ke kmarnya. "Kenapa kau ada disini? Cepat pergi!" usirku tak peduli. "Apa maksudmu, Andra?" "Jangan bo doh, Sinta. Semakin lama kau disini, Tiara bisa curiga!" "Mana ku tahu Tiara itu istrimu. Kau tak pernah menyebutkan namanya. Bukankah ini lebih baik, Andra? Kita tak perlu sembunyi lagi. Kau hanya perlu masuk ke kmar ini setelah istrimu tidur. Tak perlu pura-pura meeting dengan klien." "Kau sudah giila ya! Tiara pasti akan tahu!" "Kau tahu Andra, berada di rumah istri sahmu malah semakin seru. Kita jadi punya adrenalin dan tantangan baru." Sinta yang memakai linge rie mendekat dan mulai menaikkan kaosku. Satu detik kemudian, pintu terbuka. "Andra? Apa yang kau lakukan disini?" *** Eksklusif di KBM App Judul: Rencana Jebakan By Aandzeey #bismillahfyp #storytime #blast

ID 7599506357053754645
😕
Note 4.9/10
👁 641 vues
ER
0.16%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #8 (top 50%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 24/01/2026 🚫 <60s
🏅 #13 / 15
😕
Score vidéo 4.8/10

“Ra-Raya… Raya tidak sakit. Hasil lab menunjukkan dia… dia ha mil,” ucap Dokter Mike, suaranya pelan dan sedikit bergetar, seraya memegang hasil pemeriksaan laboratorium milik Raya yang terlipat di tangannya. “Apa? Ham il?” ucap Andin kaget luar biasa. Ekspresi wajahnya beku, matanya melebar tak percaya, seolah Mike baru saja mengumumkan kiamat kecil. Andin segera maju, meraih bahu Raya. “Raya, apa ini? Kamu ham il?” tanyanya, suaranya berubah menjadi nada menelisik yang tajam. “A-aku juga tidak tahu, Andin. Ini tidak mungkin! Apa benar aku ha mil, Mike?” tanya Raya, suaranya tercekat. Ia menatap dokter Mike dengan tatapan memohon, berharap ada kesalahan dari diagnosa yang ia dapatkan. Mike mengangguk pelan. “Ya, Raya. Hasilnya sangat jelas. Kamu hamil. Mungkin kehamilanmu masih dalam tahap awal sekali, sekitar empat sampai enam minggu, karena itu kamu tidak menyadarinya dan gejalanya baru muncul sekarang, seperti pingsan, kelelahan, begitulah.” Andin menarik napas tajam, lalu berbalik menatap Raya dengan pandangan yang menggebu-gebu, mengabaikan kehadiran Mike. "Raya! Katakan padaku, apa kamu memiliki kekasih? Ada pria yang kamu kencani secara serius di luar pekerjaan ini?" tanyanya menelisik. “Kekasih? Yang benar saja, Din,” ucap Raya sedikit kesal dengan prasangka Andin. Rasa-rasanya, Andin harus tahu jika selama ini Raya memang tidak pernah memiliki kekasih, hubungan int im nya murni karena pekerjaan. “Aku serius, Raya! Aku butuh jawaban yang serius! Kalau bukan kekasih, lalu anak siapa itu? Cepat katakan!” desak Andin, suaranya meninggi, mulai kehilangan kendali diri. Rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa simpati. “Andin, tolong jangan menekan Raya seperti itu,” potong Dokter Mike dengan suara tegas, menengahi mereka. “Sepertinya dia juga sama kagetnya dan membutuhkan waktu untuk mencerna hasil ini.” Andin berusaha keras untuk tenang. Dia menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik, lalu menghembuskannya perlahan. Dia memejamkan mata, memaksakan logikanya kembali. “Baiklah, maaf, Raya. Aku hanya panik,” ucap Andin, nadanya melunak sedikit. Dia kembali ke sisi Raya, menyentuh lengan sahabatnya. “Tapi, tolong, Raya. Demi kita. Anak siapa itu?” tanya Andin sekali lagi, kini dengan suara lirih yang penuh harapan dan kekhawatiran. Raya memalingkan wajah, matanya mulai berkaca-kaca. Realita pahit menghantamnya. "A-aku tidak tahu, Andin. Aku benar-benar tidak tahu..." Ia menarik napas dalam-dalam. "Kemungkinan besar, ini adalah anak dari... pelanggan terakhirku," ucap Raya dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh rasa malu dan keputusasaan. Andin terperanjat mundur lagi. “Apa? Kamu tidak bercanda, Raya? Pelanggan? Anak dari pria yang bahkan tidak kamu kenali namanya?” “Ya, aku juga tidak mengerti, Andin,” ucap Raya, air matanya mulai menetes. "Aku selalu berhati-hati..." Dokter Mike, yang selama ini mendengarkan, angkat bicara, memberikan konteks medis yang menjelaskan kenapa kon tras epsi Raya gagal. “Raya sudah melepas I U D-nya (Intrauterine Device), sejenis alat ko ntrase psi yang dipasang di dalam ra him, dua bulan yang lalu. Itu karena dia berniat untuk berhenti total dari pekerjaan ini dan memulai hidup baru.” Mike menatap Raya dengan wajah yang sangat serius. "Apa setelah I U D dilepas, kamu masih menerima pelanggan lagi, Raya? Bahkan hanya satu kali?" Tatapan serius Mike membuat Raya gemetar, ia harus mengakui kebenaran. "Ya, Mike. Hanya... satu kali. Sebelum aku bertemu Mami Megan untuk mengajukan berhenti. Aku pikir, hanya satu kali tidak akan berpengaruh..." Ketiga orang itu terdiam. Kenyataan itu men us uk taj am. Keh am ilan ini adalah hasil dari perpisahan Raya dengan pekerjaan terlarang itu, tapi justru mengikatnya pada masa lalu yang ingin ia tinggalkan. Keh am ilan ini bukan hanya mengubah status Raya, tetapi juga menghancurkan semua rencananya untuk hidup normal. *** Judul : Berhenti Jadi Penghibur Penulis : Nietha_Setiaji KBM App #foryou #bismillahfyp #fup

ID 7598815415455730965
😕
Note 4.8/10
👁 558 vues
ER
0.18%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #13 (top 14.3%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 23/01/2026 🚫 <60s
🏅 #10 / 15
😐
Score vidéo 5.7/10

Di antara hidup dan mati… dia berdiri di sisiku. “Gunting!” pintaku. Dengan sigap Yoga menyerahkan alat. Aku menggunting pakaian bayi yang basah kuyup. “Selimut t h e r m a l, cepat!” Arshaka langsung membongkar tas medis dan menyerahkan selimut aluminium foil. Aku membungkus tubuh kecil itu, lalu menggosok punggung dan telapak kakinya kuat untuk merangsang s i r k u l a s i. “Ayo, Nak… nangis… ayo…” bisikku berulang. Suaraku parau. Tak ada respons. “Dokter Aluna…” Arshaka berjongkok di sampingku. Tangannya terulur ragu. “Dia… masih ada harapan?” Aku tak menjawab. Aku mendekatkan wajahku dan memberikan napas bantuan ringan. Satu… dua hembusan kecil. Lalu kembali menggosok dadanya. “Yoga, siapkan a m b u b a g ukuran infant. Pasang o k s i g e n,” perintahku cepat. “Ayo, Nak… p l e a s e…” Tiba-tiba ada gerakan kecil di jemariku. Kelopak mata bayi itu bergetar. Lalu terdengar suara lirih, nyaris seperti cicitan. “Oek…” Suara itu begitu pelan, namun bagiku terdengar seperti mukjizat. “Alhamdulillah…” ucapku gemetar. Aku segera mengangkat tubuh mungil yang terbungkus selimut thermal itu, mendekapnya ke dadaku. Lalu aku menatap Arshaka. “Dia butuh s k i n t o s k i n contact, Kapt. Bisakah Anda membantu?” “Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya. “Buka baju Anda. Dia butuh transfer panas tubuh. Saya tidak bisa melakukannya.” “Biar saya saja.” Tanpa ragu, Arshaka melepas seragam lorengnya dan mendekap bayi itu ke dadanya. Cara ia memeluknya… seperti seorang ayah. “Yoga, selimuti aku,” pintanya. “Siap, Ndan.” Aku mengusap punggung bayi itu dari luar selimut. “Kamu kuat, Nak. Bertahanlah…” Arshaka menghela napas panjang. Bahunya yang tegap sedikit merosot lega. Tatapannya padaku lembut—tatapan yang terlalu familiar. “Biar hangatnya terjaga.” Tiba-tiba dia menarik tanganku dan menempatkannya di punggung bayi itu. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan napas hangatnya di sisi wajahku. “Terima kasih… sudah menyelamatkannya,” bisikku pelan. “Kamu yang menyelamatkannya, Ay.” Dia menyentuh punggung tanganku, lalu cepat menariknya kembali, sadar telah melanggar batas. “Tanganmu… masih ajaib seperti dulu.” Jantungku berdegup kencang. Bukan karena adrenalin. “Ini tugas saya, Kapten. Jangan berlebihan,” balasku dingin, menarik tanganku dan mundur menjaga jarak. “Ayo, kita ke posko. Kondisinya belum stabil. Dia butuh i n f u s dan i n k u b a t o r,” ujarku sambil berusaha berdiri. Namun kakiku yang lama terendam lumpur terasa kram. Tubuhku nyaris limbung. Arshaka sigap menahan pinggangku. “Hati-hati.” Tanpa permisi, dia merangkul bahuku, membiarkanku bersandar pada sisi tubuhnya yang kokoh, sementara tangannya yang lain tetap mendekap bayi itu. “Saya tidak apa-apa, Kapt.” “Kalau begitu, jadikan aku tumpuanmu. Jangan membantah, Dokter. Ini perintah komandan operasi. Kita harus cepat demi bayi ini.” *** Selanjutnya di K B M A P P Judul: Dokter, Izinkan Aku Kembali Penulis: nayyukii_ #bismillahfyp

ID 7598348465231367445
😐
Note 5.7/10
👁 627 vues
ER
0.8%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #10 (top 35.7%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 23/01/2026 🚫 <60s
🏅 #11 / 15
😐
Score vidéo 5.5/10

“Itu! Di sana, Pak Tentara! Di sela-sela ranting pohon dan atap rumah itu!” Bu Halimah menunjuk histeris ke arah atap rumah yang sudah separuh ambruk dan tertimpa pohon tumbang. Mataku menyipit mengikuti arah telunjuknya. Jantungku mencelos. Ada gumpalan kain kotor tersangkut di dahan yang menjulur tepat di atas aliran air deras yang keruh. Diam. Tak ada pergerakan sama sekali. “Biar saya yang naik. Yoga, siapkan tali pengaman. Ay, bersiap di bawah,” perintah Arshaka tegas. Tanpa menunggu jawaban, dia sudah bergerak gesit memanjat sisa tembok licin dengan ketangkasan yang membuatku menahan napas. Aku berdiri kaku di bawah, jemariku saling meremas. “Hati-hati, Mas…” gumamku tanpa sadar. Suaraku tertelan deru arus air. Arshaka meniti balok kayu rapuh. Setiap pijakan membuatnya berderit ngeri. Yoga di sampingku tampak tegang memegang tali yang terikat di pinggang komandannya. Saat tangan kekar Arshaka berhasil meraih bungkusan kain itu, waktu seolah berhenti. Dia tak langsung turun. Dia menempelkan telinganya ke dada bayi itu sejenak, lalu menatapku. Wajah datarnya berubah tegang. “Siap tangkap! Yoga, b a c k u p!” teriaknya. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Arshaka turun membawa bayi itu dalam satu lengannya. Begitu kakinya menapak tanah berlumpur, dia langsung menyerahkan bayi itu ke pelukanku. “Dingin. Dia dingin sekali, Ay. Lakukan sesuatu,” ucapnya. Nada panik menyusup, wibawa militernya runtuh sejenak. Aku tak sempat menegur panggilannya. Tubuh mungil itu terasa seperti es di tanganku. Bibirnya m e m b i r u, s i a n o s i s berat. Kulitnya pucat dan tampak k a k u. “Yoga! Gelar matras di tempat agak kering! Sekarang!” teriakku. Aku berlutut dan meletakkan bayi itu di atas matras darurat. Tanganku bergerak cepat memeriksa nadi di leher mungilnya. Lemah. Sangat lemah. “Napasnya satu-satu… H i p o t e r m i a berat,” desisku. Air mataku mendesak, tapi kutahan. Aku dokter spesialis anak. Aku tak boleh runtuh saat p a s i e n k u berada di ambang k r i t i s. *** Selanjutnya di K B M A P P Judul: Dokter, Izinkan Aku Kembali Penulis: nayyukii_ #foryou

ID 7598347911893683477
😐
Note 5.5/10
👁 627 vues
ER
0.64%
Global : 0.96%
Save rate
0%
Global : 0.11%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #11 (top 28.6%) Ouvrir sur TikTok ↗
📊 Vues par vidéo
Survole un point pour voir la vidéo (# + date + vues exactes).
📈 ER & 📌 Saves
ER = engagement, Save rate = “vidéo à garder”.
💰 Revenu estimé (TikTok Ads)
  • Je compte uniquement les vidéos ≥ 60 secondes (tu m’as dit que <60s = pas pris en compte).
  • Calcul sur les 30 derniers jours (dans la limite des 35 dernières vidéos qu’on a dans le JSON).
  • RPM estimé : 0.42€/1k vues (range 0.29–0.54) basé sur ER + save rate + durée moyenne.
  • Résultat: 0€ sur 30j (range 0€0€), pour 0 vues éligibles et 0 vidéos ≥60s.
Important: c’est une estimation “réaliste” mais ça dépend beaucoup du pays d’audience, du type de contenu, et du niveau de vues qualifiées.
🧠 Lecture ultra simple
  • Emoji + note /10 = performance globale de la vidéo (views + ER + saves).
  • ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues.
  • Badges “Au-dessus / En dessous” = comparaison directe à la moyenne de TON compte.
✨ Boost tes vidéos Vexub IA
Sous-titre tes vidéos automatiquement avec l’IA 🎧

Importe ta vidéo, et Vexub génère une vidéo sous-titrée prête pour TikTok, Reels ou Shorts. Pas de montage, pas de prise de tête.

  • Reconnaissance vocale IA → texte propre
  • Sous-titres syncro automatiquement sur la vidéo
  • Format vertical optimisé pour les vues
Tester le sous-titrage IA ↗
Sous-titrage vidéo IA avec Vexub