Avatar TikTok de 𝐀𝐍𝐆𝐗

𝐀𝐍𝐆𝐗

@angx.official
📊 TikTok Analytics Vexub 📉 -20.4% sur 14 vidéos 📅 1.45j / post

•Mindset • Psikologi • Stoikisme • Uang "Belajar menguasai diri sebelum menguasai dunia." 📚 Rekomendasi buku ada di showcase.

👥 Followers
2.64K
Taille du compte
👁 Avg views
1.3K
Moyenne sur 15 vidéos
💬 ER global
4.34%
Likes + com + partages / vues
📌 Save rate
1.31%
Sauvegardes / vues
🔎 Détails (profil + refresh) ouvrir
⏱ Refresh : 05/02/2026 05:12 ❤️ Likes profil : 25.1K 🎥 Vidéos profil : 276 ➕ Following : 1 📦 Vidéos analysées : 15 🔥 7 dernières : 6.25K ⬅️ 7 précédentes : 7.86K
ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues • Revenu estimé basé sur les vidéos ≥ 60s des 30 derniers jours.
🎥 Dernières vidéos
Miniature vidéo TikTok
📆 27/01/2026 🚫 <60s
🏅 #2 / 15
😄
Score vidéo 7.8/10

Dalam pandangan Aristoteles, retorika adalah kemampuan menyampaikan gagasan dengan cara paling meyakinkan, bukan dengan paksaan, tapi dengan keseimbangan antara karakter, logika, dan emosi. Ia menyebut ada tiga pilar utama yang membuat seseorang benar-benar didengar. 1. Ethos — Karakter Pembicara Lebih Penting dari Kata-kata Orang tidak mendengarkan siapa yang paling pintar, mereka mendengarkan siapa yang mereka percaya. Ethos adalah soal kredibilitas, sikap, dan integritas pembicara. Contoh konkret: Kalau lo bicara dengan tenang, jujur, dan tidak berlebihan, orang akan lebih terbuka menerima argumen lo — bahkan sebelum lo selesai bicara. Sebaliknya, argumen bagus dari orang yang arogan sering langsung ditolak. Pelajaran: Bangun reputasi dan sikap dulu, baru bicara soal ide. 2. Logos — Logika yang Rapi Membuat Argumen Sulit Dibantah Logos adalah kekuatan logika: sebab–akibat, data, dan alur berpikir yang jelas. Tanpa logos, pembicaraan hanya terdengar emosional. Contoh konkret: Bukan cuma bilang: “Ini buruk.” Tapi jelaskan: Kenapa buruk Apa dampaknya Apa alternatifnya Ketika logika runtut, lawan bicara akan kehabisan celah. Pelajaran: Orang bisa menolak opini, tapi sulit menolak logika yang rapi. 3. Pathos — Sentuh Emosi, Bukan Provokasi Manusia bukan makhluk logis sepenuhnya. Emosi selalu ikut menentukan keputusan. Pathos bukan memanipulasi emosi, tapi menghubungkan ide dengan pengalaman manusia. Contoh konkret: Daripada bicara abstrak soal “kerja keras”, ceritakan pengalaman nyata tentang kegagalan, usaha, dan proses. Cerita membuat orang merasa: “Gue ngerti maksud lo.” Pelajaran: Orang bergerak karena emosi, tapi bertahan karena logika. Menurut Aristoteles, orang yang benar-benar didengar bukan yang paling keras, tapi yang mampu menyeimbangkan: karakter yang dipercaya (Ethos), logika yang kuat (Logos), dan emosi yang manusiawi (Pathos). Kalau salah satu hilang, pesan lo pincang. Kalau tiga-tiganya seimbang, kata-kata lo akan punya bobot. Bicara keras nggak bikin lo didengar. Karakter bikin orang percaya. Logika bikin orang paham. Emosi bikin orang peduli. Itu rahasia retorika sejak ribuan tahun lalu — dan masih berlaku sampai sekarang. #retorika #aristoteles #publicspeaking #komunikasielegan #berpikirkritis

ID 7600035571066555656
😄
Note 7.8/10
👁 4.3K vues
🔥 banger
ER
4.16%
Global : 4.34%
Save rate
1.79%
Global : 1.31%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #2 (top 92.9%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 23/01/2026 🚫 <60s
🏅 #3 / 15
🙂
Score vidéo 6.1/10

Tan Malaka adalah pejuang kemerdekaan, filsuf politik, dan pemikir kritis yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara penuh, radikal, dan tanpa kompromi. Ia tidak hanya melawan penjajah, tapi juga berani mengkritik: elit politik sistem kekuasaan bahkan sesama tokoh pergerakan Dan justru di situlah akar masalahnya. 1. Pemikirannya terlalu radikal untuk narasi resmi Tan Malaka tidak setengah-setengah dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ia menolak kompromi dengan penjajah dalam bentuk apa pun. Contoh: Saat sebagian elit memilih jalur diplomasi, Tan Malaka menilai itu berbahaya dan melemahkan kedaulatan. Narasi seperti ini tidak cocok dengan sejarah versi “aman”. 2. Ia sering mengkritik pemimpin sendiri Tan Malaka tidak hanya melawan Belanda, tapi juga mengkritik tokoh nasional yang dianggap terlalu lunak atau oportunis. Dampaknya: Dalam sejarah resmi, tokoh yang mengkritik dari dalam sering dianggap “mengganggu persatuan”. Padahal kritik adalah bagian dari kemerdekaan berpikir. 3. Tidak mudah dikotakkan sebagai pahlawan simbolik Buku pelajaran cenderung menyukai tokoh yang: rapi patuh mudah dijadikan teladan tanpa kontroversi Tan Malaka justru sebaliknya: liar dalam pikiran, keras dalam kritik, dan sulit dikendalikan. Tokoh seperti ini susah dijadikan simbol formal. 4. Pemikirannya mendorong rakyat berpikir mandiri Tan Malaka menekankan bahwa rakyat harus berpikir sendiri, bukan tunduk pada elite atau dogma. Masalahnya: Sistem pendidikan yang terlalu menekankan hafalan cenderung alergi pada pemikiran kritis. Mengajarkan Tan Malaka berarti membuka ruang bertanya — dan itu tidak selalu diinginkan. 5. Sejarah sering ditulis oleh pemenang politik Siapa yang berkuasa menentukan cerita mana yang ditampilkan. Tan Malaka tidak pernah benar-benar berada di lingkar kekuasaan. Ia hidup berpindah-pindah, diburu, dipenjara, dan akhirnya dieksekusi. Tokoh seperti ini sering kalah dalam penulisan sejarah. 6. Label ideologi membuat namanya disederhanakan Pemikiran Tan Malaka sering direduksi hanya sebagai “kiri” atau “berbahaya”. Padahal karyanya membahas: pendidikan kesadaran nasional logika berpikir kemerdekaan mental Penyederhanaan ini membuatnya mudah disingkirkan dari kurikulum. 7. Lebih aman mengajarkan kepatuhan daripada keberanian berpikir Mengajarkan Tan Malaka berarti mengajarkan satu hal berbahaya: berani berbeda dan bertanggung jawab atas pikiran sendiri. Dan tidak semua sistem pendidikan siap dengan murid yang kritis. Tidak dimasukkannya Tan Malaka dalam buku pelajaran bukan berarti ia tidak penting. Justru sebaliknya. Ia terlalu penting — dan terlalu jujur — untuk sejarah yang ingin terlihat rapi. Mempelajari Tan Malaka bukan soal ideologi, tapi soal keberanian berpikir merdeka. Dan mungkin, itulah pelajaran yang paling jarang diajarkan di sekolah. Sejarah bukan cuma soal siapa yang dikenang, tapi juga siapa yang sengaja dilupakan. Tan Malaka tidak hilang dari sejarah. Ia hanya disingkirkan dari buku pelajaran. #tanmalaka #sejarahindonesia #berpikirkritis #pendidikan #mindsetmerdeka

ID 7598330946802240776
🙂
Note 6.1/10
👁 2.51K vues
ER
2.16%
Global : 4.34%
Save rate
0.44%
Global : 1.31%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #3 (top 85.7%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 20/01/2026 🚫 <60s
🏅 #5 / 15
😐
Score vidéo 5.5/10

Berpikir merdeka adalah kemampuan untuk menilai informasi secara sadar, kritis, dan mandiri — tanpa tunduk pada tekanan mayoritas, emosi massa, atau popularitas sebuah opini. Di media sosial, berpikir merdeka berarti: Tidak langsung percaya Tidak reaktif Tidak kehilangan identitas hanya demi diterima 1. Bedakan informasi dengan opini Banyak konten terlihat meyakinkan, padahal hanya pendapat pribadi. Contoh: “Ini fakta” → cek: datanya apa? sumbernya siapa? Kalau hanya opini tanpa dasar, jangan anggap kebenaran. Orang merdeka tahu: opini bisa viral, fakta belum tentu. 2. Jangan jadikan jumlah like sebagai ukuran kebenaran Popular ≠ benar. Sering kali yang viral justru yang emosional, bukan yang rasional. Contoh: Video penuh kemarahan bisa jutaan views, tapi argumennya rapuh kalau diuji logika. Berpikir merdeka berarti berani berdiri walau sendirian. 3. Tahan reaksi emosional sebelum merespons Media sosial dirancang untuk memicu emosi cepat: marah, takut, bangga. Contoh: Sebelum share konten yang bikin emosi, berhenti sejenak dan tanya: “Apa ini informatif, atau cuma provokatif?” Emosi yang dikendalikan = pikiran yang tetap bebas. 4. Perluas sudut pandang, jangan hidup di echo chamber Algoritma hanya menunjukkan yang sejalan dengan pikiran lo. Contoh: Kalau lo cuma follow satu jenis pandangan, lama-lama lo pikir itu satu-satunya kebenaran. Berpikir merdeka butuh keberanian mendengar yang berbeda. 5. Berani bilang “gue belum tahu” Tekanan terbesar di media sosial adalah harus selalu punya pendapat. Contoh: Daripada ikut-ikutan komentar, lebih dewasa bilang: “Gue perlu belajar dulu soal ini.” Orang yang benar-benar berpikir tidak takut terlihat belum tahu. 6. Nilai argumen, bukan siapa yang bicara Status, follower, dan jabatan sering menipu penilaian. Contoh: Tokoh terkenal bisa salah. Orang biasa bisa benar. Berpikir merdeka menilai isi, bukan nama. 7. Tentukan nilai hidup sebelum menentukan opini Kalau nilai hidup lo jelas, opini tidak mudah digoyang. Contoh: Kalau lo pegang nilai kejujuran, konten manipulatif akan mudah lo kenali. Nilai adalah kompas. Tanpanya, pikiran mudah terseret arus. Di era media sosial, kebebasan berpikir bukan tentang bebas bicara. Tapi tentang bebas dari pengaruh yang membutakan logika. Ketika lo bisa berhenti sejenak, berpikir jernih, dan memilih sikap dengan sadar, saat itulah lo benar-benar merdeka — bukan di layar, tapi di kepala lo sendiri. Yang paling berbahaya dari media sosial bukan kebohongan — tapi kebiasaan berhenti berpikir. Jangan biarkan algoritma menentukan cara lo melihat dunia. #berpikirkritis #mindsetmerdeka #mediasosial #literasidigital #edukasianakmuda

ID 7597417373582298386
😐
Note 5.5/10
👁 1.33K vues
ER
1.58%
Global : 4.34%
Save rate
0.38%
Global : 1.31%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #5 (top 71.4%) Ouvrir sur TikTok ↗
📊 Vues par vidéo
Survole un point pour voir la vidéo (# + date + vues exactes).
📈 ER & 📌 Saves
ER = engagement, Save rate = “vidéo à garder”.
💰 Revenu estimé (TikTok Ads)
  • Je compte uniquement les vidéos ≥ 60 secondes (tu m’as dit que <60s = pas pris en compte).
  • Calcul sur les 30 derniers jours (dans la limite des 35 dernières vidéos qu’on a dans le JSON).
  • RPM estimé : 0.8€/1k vues (range 0.56–1.04) basé sur ER + save rate + durée moyenne.
  • Résultat: 0€ sur 30j (range 0€0€), pour 0 vues éligibles et 0 vidéos ≥60s.
Important: c’est une estimation “réaliste” mais ça dépend beaucoup du pays d’audience, du type de contenu, et du niveau de vues qualifiées.
🧠 Lecture ultra simple
  • Emoji + note /10 = performance globale de la vidéo (views + ER + saves).
  • ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues.
  • Badges “Au-dessus / En dessous” = comparaison directe à la moyenne de TON compte.
✨ Boost tes vidéos Vexub IA
Sous-titre tes vidéos automatiquement avec l’IA 🎧

Importe ta vidéo, et Vexub génère une vidéo sous-titrée prête pour TikTok, Reels ou Shorts. Pas de montage, pas de prise de tête.

  • Reconnaissance vocale IA → texte propre
  • Sous-titres syncro automatiquement sur la vidéo
  • Format vertical optimisé pour les vues
Tester le sous-titrage IA ↗
Sous-titrage vidéo IA avec Vexub