Avatar TikTok de arfh

arfh

@arifahyoung
📊 TikTok Analytics Vexub 📈 22.3% sur 14 vidéos 📅 2.96j / post
👥 Followers
2.18K
Taille du compte
👁 Avg views
279
Moyenne sur 15 vidéos
💬 ER global
4.47%
Likes + com + partages / vues
📌 Save rate
0.38%
Sauvegardes / vues
🔎 Détails (profil + refresh) ouvrir
⏱ Refresh : 03/02/2026 18:39 ❤️ Likes profil : 24.9K 🎥 Vidéos profil : 42 ➕ Following : 9 📦 Vidéos analysées : 15 🔥 7 dernières : 2.24K ⬅️ 7 précédentes : 1.83K
ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues • Revenu estimé basé sur les vidéos ≥ 60s des 30 derniers jours.
🎥 Dernières vidéos
Miniature vidéo TikTok
📆 25/12/2025 🚫 <60s
🏅 #4 / 15
😄
Score vidéo 7.8/10

Turut memanjangkan kalimat : Tulisan ini berhasil mengangkat spiritualitas mahabbah ilahiyyah ala Rabi’ah al-Adawiyah secara puitik dan reflektif, menghadirkan horizon tasawuf yang menempatkan Tuhan bukan sebagai objek transaksi pahala, melainkan sebagai tujuan ontologis keberadaan manusia. Dalam tradisi Sufi, cinta kepada Allah bukan sekadar emosi religius, melainkan suatu keadaan eksistensial di mana subjek perlahan diluruhkan (fana’) dari kepentingan diri menuju keberadaan bersama kehendak Ilahi (baqa’ billah). Namun demikian, tulisan ini cenderung menggeneralisasi pengalaman mistik personal—yang dalam tasawuf justru lahir dari maqām, riyāḍah, dan ḥāl spiritual tertentu—menjadi prinsip teologis universal yang seolah dapat diterapkan tanpa syarat pada seluruh umat. Dengan menempatkan surga sebagai bukan tujuan akhir, tulisan ini berisiko mengaburkan posisi eskatologi dalam Islam yang secara tekstual dan simbolik sangat sentral. Dalam perspektif Ibn ‘Arabi, surga dan neraka bukan sekadar ruang balasan, melainkan bentuk tajallī (penyingkapan) relasi manusia dengan Tuhan: surga sebagai kedekatan, neraka sebagai keterpisahan. Namun tajallī ini tetap bekerja dalam bahasa syariat, sebab mayoritas manusia belum hidup dalam kesadaran fana’, melainkan masih memerlukan simbol, janji, dan ancaman sebagai pedagogi etis. Menghapus atau merelatifkan fungsi surga tanpa konteks justru berisiko memutus jembatan antara tasawuf dan Islam normatif. Lebih jauh, cinta dalam filsafat Sufi tidak pernah hadir sebagai penyangkalan terhadap harap (rajā’) dan takut (khauf), melainkan sebagai transformasi keduanya. Al-Ghazali menegaskan bahwa iman yang matang bukan iman tanpa takut dan harap, tetapi iman yang menempatkan keduanya dalam keseimbangan menuju ihsan. Pada tahap awal, takut dan harap menjaga moral; pada tahap lanjut, cinta memurnikannya. Maka cinta bukanlah oposisi dari pahala dan hukuman, melainkan pendalaman maknanya. Surga tidak lenyap, tetapi berubah dari tujuan eksternal menjadi konsekuensi batin dari ridha Ilahi. Di sinilah problem laten tulisan ini muncul: ketika cinta ilahi dipresentasikan secara romantik tanpa disiplin spiritual, ia berpotensi melahirkan elitisme ruhani—seolah hanya mereka yang beribadah karena cinta yang berada di puncak, sementara yang lain terjebak pada iman “kelas bawah”. Padahal tasawuf autentik justru bersifat inklusif dan pedagogis: ia tidak meniadakan jenjang, tetapi merawat perjalanan. Nabi sendiri mengakui keragaman motivasi iman manusia dan tidak meruntuhkan yang satu demi meninggikan yang lain. Dengan demikian, cinta kepada Allah memang merupakan puncak spiritualitas Islam, tetapi puncak ini tidak berdiri dengan membakar fondasinya. Dalam kerangka tasawuf yang matang, cinta tidak membatalkan syariat, surga, dan neraka, melainkan menyingkap makna terdalamnya: bahwa seluruh sistem etika Islam pada akhirnya bermuara pada satu hal—kehadiran manusia di hadapan Tuhan tanpa hijab, tanpa pamrih, dan tanpa ilusi diri.#fyp #belajar #

ID 7587712387831188756
😄
Note 7.8/10
👁 283 vues
ER
9.19%
Global : 4.47%
Save rate
0.35%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #4 (top 78.6%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 12/12/2025 🚫 <60s
🏅 #1 / 15
😄
Score vidéo 7.1/10

Orang bodoh takut salah, orang cerdas takut tidak belajar. Ketakutan akan kesalahan adalah penyakit intelektual paling halus, karena ia membuat pikiran berhenti tumbuh tanpa terasa. Banyak orang terlihat pintar hanya karena tidak pernah mempertanyakan apa pun. Mereka tidak salah karena tidak berpikir. Namun ironisnya, justru di situlah kesalahan terbesar dimulai. Fakta menariknya, penelitian dari University of California menunjukkan bahwa otak manusia yang terbiasa membuat kesalahan lalu merefleksikannya, memperkuat jalur neuron hingga 70 persen lebih cepat dalam memahami pola baru dibanding otak yang hanya mengikuti instruksi tanpa salah sama sekali. Dengan kata lain, salah itu bukan musuh berpikir, tetapi bahan bakarnya. Berikut cara melatih diri agar tidak takut salah saat berpikir. 1. Ubah makna salah dari kegagalan menjadi bahan belajar Kebanyakan orang takut salah karena mereka menilai kesalahan sebagai bukti kebodohan. Padahal, salah hanyalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir dengan serius. Thomas Edison menciptakan ribuan percobaan gagal sebelum menemukan bola lampu. Ketika ditanya, ia menjawab tenang, “Aku tidak gagal, aku hanya menemukan seribu cara yang tidak berhasil.” Pandangan ini bukan sekadar optimisme, tetapi cara berpikir ilmiah: memperlakukan kesalahan sebagai data, bukan dosa. 2. Latih diri berbicara di depan orang tanpa mencari benar atau salah Saat seseorang berbicara di hadapan banyak orang, dorongan untuk terlihat pintar sering kali lebih besar daripada keinginan untuk berpikir jujur. Akibatnya, ia menahan ide-ide mentah yang justru berpotensi memantik percikan baru. Melatih diri berbicara tanpa beban benar atau salah membuat otak lebih lentur, lebih siap mengolah argumen tanpa takut reputasi rusak. 3. Sadari bahwa takut salah adalah bentuk kesombongan tersembunyi Orang yang takut salah biasanya ingin terlihat sempurna. Ia ingin setiap ucapannya tampak benar, setiap pikirannya disetujui. Tapi di balik itu, ada ego yang takut runtuh. Padahal, kerendahan hati intelektual justru lahir ketika seseorang berani mengakui, “Mungkin aku keliru.” Dalam momen itu, pikiran benar-benar terbuka. 4. Pisahkan kesalahan berpikir dari nilai diri Kesalahan berpikir tidak menjadikan seseorang bodoh, sama seperti kesalahan langkah tidak menjadikan seseorang lumpuh. Namun banyak orang gagal berpikir jernih karena mereka menganggap kesalahan adalah refleksi harga diri. Akibatnya, setiap koreksi terasa seperti serangan pribadi. Padahal yang diserang bukan dirinya, melainkan idenya. 5. Belajar menikmati ketidakpastian dalam berpikir Berpikir itu seperti berjalan di kabut. Semakin jauh melangkah, semakin banyak hal yang belum jelas. Orang yang takut salah akan berhenti di tengah jalan karena tidak tahan dengan ketidakpastian itu. Namun orang yang berpikir dewasa justru menikmati prosesnya. Ia tahu bahwa kepastian tidak datang dari jawaban instan, tapi dari kesabaran mengurai kompleksitas. 6. Gunakan logika sebagai alat refleksi, bukan perlindungan Sebagian orang menggunakan logika hanya untuk membela diri, bukan mencari kebenaran. Ketika pendapatnya disanggah, mereka berargumentasi bukan untuk memahami, tapi untuk menang. Sikap ini membuat pikiran rapuh. Sebaliknya, jika logika digunakan sebagai cermin untuk menguji pikiran sendiri, setiap kesalahan justru memperbaiki ketajaman berpikir. 7. Jadikan kesalahan sebagai latihan berpikir kritis setiap hari Kesalahan bukan sekadar hal yang harus dihindari, tapi arena latihan berpikir yang nyata. Saat seseorang salah menilai situasi, salah berasumsi, atau salah mengambil keputusan, di situlah kesempatan emas untuk belajar. Ia bisa menelusuri di mana alur logikanya meleset, bagian mana yang terlalu emosional, dan apa yang bisa diperbaiki ke depan. #filsuf #filsafat #fyp #fypシ #belajar

ID 7583031141184097556
😄
Note 7.1/10
👁 892 vues
🔥 banger
ER
2.69%
Global : 4.47%
Save rate
0.45%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #1 (top 100%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 12/12/2025 🚫 <60s
🏅 #2 / 15
😄
Score vidéo 7.6/10

Orang cerdas pun bisa ditipu, bukan karena kurang pengetahuan, tapi karena pikirannya tidak tertata. Manipulasi bukan soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling mampu mengendalikan cara pikir. Menurut penelitian dari University of Cambridge, otak manusia secara alami lebih mudah mempercayai informasi yang terdengar familiar daripada yang benar-benar logis. Itulah sebabnya banyak orang terjebak dalam retorika yang menyentuh emosi, meskipun bertentangan dengan fakta. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui bentuk manipulasi halus. Seorang teman yang membuat kita merasa bersalah agar menuruti keinginannya. Atau influencer yang menjual produk dengan kata “semua orang pakai ini,” padahal itu hanyalah strategi tekanan sosial. Menata cara pikir berarti belajar mengenali pola yang memanfaatkan bias dan emosi manusia. Bukan untuk menjadi curiga terhadap semua hal, tetapi agar tetap sadar dalam setiap keputusan. 1. Sadari Bahwa Manipulasi Selalu Memainkan Emosi Manipulasi bekerja bukan lewat logika, tetapi lewat perasaan. Saat seseorang ingin mengendalikanmu, mereka jarang menyerang pikiranmu, melainkan menggoyahkan emosimu. Misalnya dengan membuatmu merasa bersalah, takut kehilangan, atau ingin diakui. Begitu emosi terguncang, rasionalitas pun lumpuh, dan saat itulah manipulasi berhasil. Contohnya saat seseorang berkata, “Kalau kamu benar-benar peduli, kamu pasti nurut.” Kalimat itu bukan argumen, melainkan perangkap emosional. Orang yang pikirannya tertata tidak bereaksi spontan, ia memberi jarak antara emosi dan keputusan. 2. Latih Diri untuk Mengenali Pola Bahasa yang Menggiring Bahasa adalah alat utama manipulasi. Kata-kata seperti “semua orang tahu”, “kamu pasti setuju”, atau “ini hanya pendapat pribadi kok” sering digunakan untuk menonaktifkan pikiran kritis lawan bicara. Pola semacam ini membuat seseorang menerima argumen tanpa menyadari bahwa mereka sedang diarahkan. Untuk menata pikiran, perhatikan bahasa yang mencoba menyamakan opini dengan kebenaran. Begitu kamu mulai peka terhadap bentuk-bentuk persuasi halus, kamu tidak lagi mudah digiring arus. Kamu tetap mendengar, tapi tidak terseret. 3. Pisahkan Fakta dari Framing Dalam manipulasi, fakta sering digunakan sebagai umpan, sementara interpretasinya diarahkan untuk keuntungan pihak lain. Misalnya, “Perusahaan ini berkembang pesat, berarti manajemennya sempurna.” Padahal fakta tentang perkembangan belum tentu menjamin kejujuran atau etika. 4. Pahami Motif di Balik Setiap Pesan Setiap orang punya kepentingan dalam berbicara. Tidak semua kepentingan buruk, tetapi semua kepentingan perlu disadari. Ketika seseorang memujimu berlebihan, bertanya baik-baik, atau memberi solusi cepat, tanyakan dalam hati, “Untuk apa?” Kesadaran ini bukan tanda sinis, melainkan bentuk kecerdasan sosial. 5. Jangan Terjebak dalam Kebutuhan Disukai Banyak orang jadi korban manipulasi karena takut kehilangan penerimaan sosial. Mereka menuruti orang lain agar tidak dianggap keras kepala. Padahal, semakin kamu butuh disukai, semakin mudah orang lain mengendalikanmu. Manipulator tahu titik lemahnya: rasa ingin diterima. Seseorang yang pikirannya tertata tidak mencari validasi dari luar. Ia tahu kapan harus berkata tidak tanpa rasa bersalah. Dengan begitu, keputusan yang ia ambil bukan hasil tekanan, melainkan kesadaran diri. 6. Belajar Mengidentifikasi Bias dalam Pikiran Sendiri Sering kali manipulasi berhasil karena kita sudah membawa bias yang memperkuatnya. Misalnya, ketika kamu sudah percaya bahwa “orang yang berpakaian rapi pasti jujur,” maka manipulator hanya perlu tampil meyakinkan. Otakmu akan melengkapi sisanya. 7. Bangun Kebiasaan Menunda Reaksi Sebelum Menilai Manipulator hidup dari reaksi cepat orang lain. Mereka ingin kamu segera percaya, segera membeli, segera setuju. Karena itu, kekuatan terbesar untuk melawan manipulasi adalah jeda. Saat kamu menunda respon, kamu memberi ruang bagi akal sehat untuk mengambil alih. #fyp #fy #filsafat #filsuf #viral

ID 7583029804509744405
😄
Note 7.6/10
👁 403 vues
ER
4.47%
Global : 4.47%
Save rate
1.24%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #2 (top 92.9%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 12/12/2025 🚫 <60s
🏅 #3 / 15
🔥
Score vidéo 8.1/10

Cobalah sesuatu sebelum mengkisahkannya; pengalaman memberi bobot pada setiap cerita. Dengan melakukan terlebih dahulu, kita memperoleh bukti yang membuat kata-kata kita lebih jujur dan bermakna. Orang yang bertindak dulu biasanya bicara dengan ketenangan, bukan sekadar tekaan. Pahami situasi sebelum memberi jawaban, dan pikirkan baik-baik sebelum mengeluarkan kata. Mendengarkan lebih panjang dari sekadar mendengar kata—ia menuntut empati dan kesediaan menerima sudut pandang lain. Penilaian yang lahir dari pendengaran dan pemikiran matang jauh lebih adil ketimbang reaksi cepat. Kerja keras adalah dasar harapan yang realistis; berharap tanpa usaha adalah angan kosong. Ketika kita menaruh tenaga dan waktu pada sesuatu, harapan berubah menjadi kemungkinan nyata. Dari proses itulah tumbuh kepercayaan diri untuk berkata, bertindak, dan berharap dengan alasan.#pestarasaakhirtahun #filsafat #filsuf #fy #fyp

ID 7583029079071345940
🔥
Note 8.1/10
👁 315 vues
ER
7.94%
Global : 4.47%
Save rate
0.63%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #3 (top 85.7%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 12/12/2025 🚫 <60s
🏅 #6 / 15
🙂
Score vidéo 6.9/10

Internet tidak bodoh. Tapi banyak orang kehilangan kecerdasannya di dalam internet. Agar tidak menjadi budak algoritma, seseorang harus kembali menempatkan internet di posisi yang benar: sebagai alat untuk berpikir, bukan tempat untuk dibentuk. Berikut prinsip yang bisa membantu kamu menguasai internet tanpa dikendalikan olehnya. 1. Sadar Bahwa Internet Tidak Netral Banyak yang mengira bahwa apa yang mereka lihat di internet adalah kenyataan. Padahal, yang tampil di layar hanyalah hasil kurasi algoritma yang bekerja untuk mempertahankan perhatianmu. Platform digital tidak dirancang untuk membuatmu cerdas, tapi untuk membuatmu betah. Contohnya, saat kamu menonton satu video politik, algoritma segera mengantarkanmu ke video lain dengan arah opini serupa. Lama-lama, kamu merasa “semua orang berpikir seperti aku”. Padahal, kamu hanya hidup di gelembung informasi. Di sini pentingnya kesadaran kritis: setiap klik adalah data, dan setiap data adalah alat yang digunakan untuk memahami, lalu mengarahkanmu. 2. Gunakan Internet Sebagai Perpustakaan, Bukan Tempat Pelarian Internet adalah gudang pengetahuan terbesar yang pernah ada, tapi juga tempat pelarian paling nyaman dari realitas. Banyak orang membuka media sosial bukan untuk belajar, melainkan untuk menghindari rasa bosan atau gelisah. Masalahnya, kebiasaan itu membuat pikiran kehilangan kemampuan fokus jangka panjang. Kamu bisa lihat contohnya saat seseorang tidak bisa duduk diam tanpa menggulir layar. Ia bukan mencari sesuatu, tapi dikejar oleh rasa hampa. Solusinya bukan menolak internet, tapi menggunakannya dengan niat yang jelas. Cari jawaban, bukan pelarian. Jadikan internet sebagai ruang belajar terarah, bukan taman bermain emosi. 3. Batasi Konsumsi, Perbanyak Kreasi Kehidupan digital membuat banyak orang sibuk menjadi konsumen, bukan pencipta. Mereka menghabiskan waktu membaca, menonton, mendengarkan, tapi jarang memproses dan menulis ulang apa yang mereka pelajari. Padahal, berpikir adalah proses mencipta, bukan menelan. Coba sadari, berapa banyak waktu kamu habiskan hanya untuk menggulir tanpa arah? Jika kamu mulai menulis ringkasan dari hal yang kamu pelajari, membuat catatan, atau bahkan berdiskusi dengan orang lain, otakmu bekerja aktif. Dan di sanalah bedanya antara orang yang dikuasai teknologi dan orang yang menguasainya. 4. Gunakan Internet untuk Mengasah Nalar, Bukan Mengumpulkan Kebisingan Internet adalah medan ujian logika terbaik. Di sana, kamu akan menemukan pendapat-pendapat yang saling bertabrakan. Tapi alih-alih memilih kubu, gunakan setiap perbedaan sebagai latihan berpikir. Tanyakan: apa premisnya, apa logikanya, dan adakah cacat dalam argumennya. Kebanyakan orang tidak lagi berdiskusi untuk memahami, melainkan untuk menang. Padahal, diskusi yang sehat adalah tempat lahirnya kebijaksanaan. Jika kamu belajar mengolah informasi dengan pendekatan logis dan kritis, maka kamu bukan sekadar pengguna internet, melainkan pemikir digital. #fypシ #fyp #filsafat #filsuf

ID 7583028796975041812
🙂
Note 6.9/10
👁 279 vues
ER
3.23%
Global : 4.47%
Save rate
0.72%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #6 (top 64.3%) Ouvrir sur TikTok ↗
Miniature vidéo TikTok
📆 12/12/2025 🚫 <60s
🏅 #5 / 15
😐
Score vidéo 5.3/10

sedang memberi himbauan kalau hidupmu sedang baik-baik saja maka, siapkan lah ruang ikhlas untuk masalah yang akan datang #fyp #fypシ #viral

ID 7583013816833805588
😐
Note 5.3/10
👁 283 vues
ER
2.47%
Global : 4.47%
Save rate
0%
Global : 0.38%
Revenu est. (Ads)
0€
Non comptée : vidéo < 60s
🏆 Rang vues : #5 (top 71.4%) Ouvrir sur TikTok ↗
📊 Vues par vidéo
Survole un point pour voir la vidéo (# + date + vues exactes).
📈 ER & 📌 Saves
ER = engagement, Save rate = “vidéo à garder”.
💰 Revenu estimé (TikTok Ads)
  • Je compte uniquement les vidéos ≥ 60 secondes (tu m’as dit que <60s = pas pris en compte).
  • Calcul sur les 30 derniers jours (dans la limite des 35 dernières vidéos qu’on a dans le JSON).
  • RPM estimé : 0.65€/1k vues (range 0.46–0.85) basé sur ER + save rate + durée moyenne.
  • Résultat: 0€ sur 30j (range 0€0€), pour 0 vues éligibles et 0 vidéos ≥60s.
Important: c’est une estimation “réaliste” mais ça dépend beaucoup du pays d’audience, du type de contenu, et du niveau de vues qualifiées.
🧠 Lecture ultra simple
  • Emoji + note /10 = performance globale de la vidéo (views + ER + saves).
  • ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues.
  • Badges “Au-dessus / En dessous” = comparaison directe à la moyenne de TON compte.
✨ Boost tes vidéos Vexub IA
Sous-titre tes vidéos automatiquement avec l’IA 🎧

Importe ta vidéo, et Vexub génère une vidéo sous-titrée prête pour TikTok, Reels ou Shorts. Pas de montage, pas de prise de tête.

  • Reconnaissance vocale IA → texte propre
  • Sous-titres syncro automatiquement sur la vidéo
  • Format vertical optimisé pour les vues
Tester le sous-titrage IA ↗
Sous-titrage vidéo IA avec Vexub