Sans description
☄️8️⃣☄️
@buaz080"kesadaran" Dirimu adalah wadah kesadaran
🔎 Détails (profil + refresh) ouvrir
Sans description
Sans description
Sans description
Sans description
“Kitab Bayang dan Cahaya” Bayang yang Menelan Suara Masih banyak mulut bersuara tanpa ruh, menyulam kabut dengan benang kata, menganyam dusta jadi jubah kebenaran. Mereka menanam tidak di tanah iya, dan bunga kebohongan pun mekar di taman nurani. Yang disebut ogah, justru menjadi rumah yang disinggahi, seakan arah hati adalah labirin yang menelan kompasnya sendiri. Manusia— ciptaan dari cermin dan air liur, menjilat pantulan yang pernah ia ludahkan, hingga wajahnya larut dalam genangan janji busuk. Dan kau, mengapa menutup pintu jujur pada dirimu sendiri? Apakah takut melihat mata yang tak bisa kau tipu? Ataukah bayanganmu sendiri sudah terlalu asing hingga kau menyebutnya orang lain? Perang di Balik Kulit Wajah Ada dua wajah di dalam satu kepala, yang satu bernafas dengan kejujuran, yang satu hidup dari gema tepuk tangan. Mereka saling menatap di cermin retak, mencari siapa yang pantas disebut aku. Yang sejati diam, tapi suaranya mengguncang langit batin, yang palsu lantang, tapi langkahnya tanpa bayangan. Topeng menuduh jiwa sebagai pembohong, jiwa menatap topeng seperti menatap anaknya yang hilang arah. Di sana, perang tak bersenjata terjadi— bukan darah yang tumpah, melainkan cahaya yang terpecah. Setiap kebohongan jadi jarum, menusuk kulit nurani tanpa meneteskan luka. Sampai akhirnya tubuh menjadi medan pertempuran, dan hati menjadi saksi bisu atas perang yang tak akan dimenangkan siapa-siapa. Sebab saat topeng mati, jiwa pun ikut berkabung, menangisi wajah yang tak pernah benar-benar dikenalnya. Kelahiran dari Abu Cermin Ketika topeng jatuh, dunia menjadi sunyi. Tak ada lagi nama, tak ada lagi peran — hanya nafas yang kembali mengenali dirinya sendiri. Dari abu kebohongan, tumbuh sekuntum cahaya, bukan bunga, bukan api, tapi sesuatu yang tak bisa disebut dengan kata. Cermin yang retak kini menyatu perlahan, membentuk wajah yang tak memerlukan sorot mata. Ia lahir tanpa menangis, karena air matanya telah habis di perang sebelumnya. Kini ia berjalan tanpa jejak, menyapa bayangan bukan sebagai musuh, melainkan saudara yang pernah tersesat. Dan kejujuran pun kembali duduk di singgasananya, bukan di lidah, melainkan di denyut nadi. Sebab setelah semua topeng hancur, yang tersisa hanyalah satu bisikan lembut: “Akhirnya aku mengenal diriku"
Sans description
Sous-titres IA en 1 clic
Vidéo importée → version prête à poster.
Sans description
@sanggama108 izin pakai kang soundnya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Texte → vidéo TikTok IA
Tu écris le prompt, on génère la vidéo.
Sans description
Sans description
Sans description
#duet dengan @𝑒𝓍𝒾𝓈𝓉𝑒𝓃𝒸𝑒 𝑔𝒶𝓂𝑒𝓈 #cosmos izin duet dari sumber yang tertera 🙏🏻
Manusia sering berjalan membawa palu di tangan bukan lentera di dada. Segala yang dilihat dipukul dengan kata salah, dihukum dengan pandangan tajam, seolah dunia hanyalah ruang sidang dan dirinya hakim yang tak pernah salah. Mereka lupa, bahwa wajah yang mereka nilai hanyalah pantulan cermin yang retak, mungkin serpihannya pernah pecah karena tangan nasib, atau luka yang tak terucap. Lebih mudah menunjuk jari daripada meraba dada, lebih ringan berkata “kau berdosa” daripada bertanya, “apa yang membuatmu menangis?” Seperti langit yang cepat murka mengirim hujan deras, namun jarang sekali ia turun dengan pelangi. Kita manusia, terlalu terburu-buru mengukur dengan penggaris hitam-putih padahal kehidupan penuh warna samar, penuh jalan berliku yang tak sama. Menghakimi adalah teriakan singkat yang lahir dari ketakutan, dari keinginan menutupi rapuhnya diri sendiri. Sedang memaklumi adalah langkah sunyi yang hanya bisa ditempuh oleh jiwa yang pernah jatuh, lalu belajar bangkit tanpa mencibir orang lain. Bayangkan jika laut hanya menolak lumpur dan hanya menerima cahaya, maka ikan-ikan takkan pernah hidup. Bayangkan jika bumi hanya mengizinkan bunga, maka tak ada pohon, tak ada rumput liar yang memberi napas. Begitulah manusia seharusnya: bukan hakim, melainkan taman— yang menerima duri juga mawar, yang memberi tempat bagi benih yang salah musim, agar kelak tetap bisa tumbuh. Sebab siapa pun kita, pernah salah langkah, pernah tersesat, pernah jatuh dalam gelap. Jika hari itu tiba, bukankah kita pun berharap ada satu hati yang memilih memaklumi, bukan seribu mulut yang menghakimi?
Ilmu Hikmah Bukan dari lembaran yang dibaca bukan dari kitab yang dikhotbahkan melainkan dari jejak kaki yang terluka dan napas panjang yang tak menyerah pada badai. Hikmah lahir ketika hati teriris namun tetap memilih damai, ketika kehilangan memeluk jiwa namun engkau masih berani tersenyum pada semesta. Kitab-kitab bisa memberi petunjuk, namun hanya perjalananlah yang menghidupkannya, sebab huruf-huruf takkan bernyawa tanpa darah, air mata, dan sabar manusia. Ilmu hikmah— ia bukan milik lidah yang pandai bicara, tapi milik jiwa yang berani berjalan, hingga batu menjadi guru, dan waktu menjadi kitab abadi
- Je compte uniquement les vidéos ≥ 60 secondes (tu m’as dit que <60s = pas pris en compte).
- Calcul sur les 30 derniers jours (dans la limite des 35 dernières vidéos qu’on a dans le JSON).
- RPM estimé : 0.78€/1k vues (range 0.55–1.02) basé sur ER + save rate + durée moyenne.
- Résultat: 0€ sur 30j (range 0€–0€), pour 0 vues éligibles et 0 vidéos ≥60s.
- Emoji + note /10 = performance globale de la vidéo (views + ER + saves).
- ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues.
- Badges “Au-dessus / En dessous” = comparaison directe à la moyenne de TON compte.
Importe ta vidéo, et Vexub génère une vidéo sous-titrée prête pour TikTok, Reels ou Shorts. Pas de montage, pas de prise de tête.
- Reconnaissance vocale IA → texte propre
- Sous-titres syncro automatiquement sur la vidéo
- Format vertical optimisé pour les vues