Langkah kaki **Kaisar Beom-Gyu** terdengar berat dan terburu-buru, menggema di sepanjang koridor megah istana yang luar biasa indah itu. Jubah tempur hitam pekatnya, yang dihiasi sulaman naga emas yang rumit, tampak berdebu—saksi bisu dari dua bulan tugas yang melelahkan di wilayah perbatasan. Di belakangnya, **Han-gun**, pengawal setia yang selalu waspada, berjuang mengimbangi langkah panjang sang Kaisar. Han-gun tahu betul bahwa meski wajah Kaisar tampak tenang, matanya mengkhianati kecemasan yang mendalam dan gelisah. Beom-Gyu langsung menuju kediaman pribadi Permaisuri, namun ruangan itu sunyi senyap secara janggal. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang merapikan tempat tidur, yang seketika bersujud ketakutan melihat kehadiran penguasa mereka yang tiba-tiba. "Di mana dia? Mengapa kediamannya begitu sunyi?" tanya Beom-Gyu dengan nada rendah yang mengancam. Han-gun melangkah maju. "Mungkin Permaisuri sedang beristirahat di taman dalam, Yang Mulia. Mengingat kondisinya saat ini..." Beom-Gyu tidak menjawab. Ia membalikkan badan, mencari ke setiap sudut istana yang biasa dikunjungi istrinya. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kecemasannya mulai memuncak; dua bulan adalah waktu yang sangat lama bagi seorang suami untuk meninggalkan istri yang tengah mengandung anaknya. Tepat di persimpangan menuju kolam teratai, mereka berpapasan dengan **Sui**, kepala pelayan senior yang telah mengabdi di istana selama bertahun-tahun. Sui segera memberikan hormat yang dalam dan penuh rasa bakti. "Sui, bicaralah. Di mana Permaisuri? Aku sudah mencari ke setiap sudut istana utama dan tidak bisa menemukannya," tuntut Beom-Gyu. Sui tersenyum tenang, senyuman yang sedikit meredakan ketegangan di bahu sang Kaisar. "Ampun, Yang Mulia. Permaisuri tidak berada di kediaman utama. Beliau sedang berada di **Paviliun Belakang** untuk berjalan-jalan sejenak." Sui berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan lembut, "Tabib menyarankannya untuk melakukan gerakan ringan, Tuan. Karena usia kandungannya kini telah mencapai **tujuh bulan**, kaki beliau sering merasa kaku jika berdiam diri terlalu lama." Mendengar kata "tujuh bulan," jantung Beom-Gyu berdegup lebih kencang. Ia menyadari betapa banyak waktu yang telah ia lewatkan selama bertugas. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah menuju Paviliun Belakang, tempat udara lebih segar dan jauh dari hiruk-pikuk pusat istana. "Han-gun, tetap di sini," perintah Beom-Gyu singkat setibanya mereka di gerbang paviliun. Dari kejauhan, di antara pepohonan hijau yang rimbun, Beom-Gyu akhirnya melihatnya. Seorang wanita dengan gaun sutra longgar, berjalan perlahan dan anggun. Tangan halusnya diletakkan dengan protektif di bawah perutnya yang kini tampak bulat menonjol. Ia dikelilingi oleh beberapa dayang istana yang menjaganya dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada kerikil yang menghalangi jalannya. Sinar matahari sore yang hangat menerpa wajahnya, membuatnya tampak sangat berseri. Beom-Gyu berdiri terpaku di tempatnya. Rasa lelah dari tugas negara seolah menguap seketika saat melihat istrinya dalam keadaan sehat dan selamat, membawa anak mereka yang akan segera lahir ke dunia. #Fyp#botcai #Charakterai#cai #fyppp