⚠️REMINDER: JANGAN SELF DIAGNOSE⚠️ PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) momen ketika otak kamu masih hidup di mode “siaga darurat” karena pernah ngalamin sesuatu yang sangat mengancam atau menyakitkan. Jadi meskipun situasinya udah aman… otak kamu tetap ngerasa “wah, bahaya nih” karena nemuin beberapa perasaan familiar seperti rasa cinta. BPD (Borderline Personality Disorder) Ini bukan sekadar “mood swing” tapi pola emosi yang super intens, hubungan naik-turun mirip roller coaster, takut ditinggalkan jadi milih ninggalin duluan, dan sering salah baca sinyal cinta… bukan karena drama, tapi karena otak kesulitan ngerasain stabilitas emosional. Sekarang ayo kita gabungin dua fakta ini: Pada PTSD: cinta sering terasa berbahaya karena otak pernah belajar kalau orang yang terlalu “dekat” bisa menyakiti. Cinta yang lembut dan aman pun terasa kayak “jebakan batman”. Pada BPD: hal berbahaya sering terasa seperti cinta karena intensitas emosional yang tidak stabil dianggap kedekatan. Drama dianggap chemistry. Chaos dianggap passion atau bahkan gairah. Pada titik ini BPD kecanduan sama rasa deg-degan yang sebetulnya muncul karena adrenaline, bukan ‘butterfly in your stomach’. Intinya? Trauma bisa bikin “kompas cinta” kita rusak arah. Yang aman terasa ancaman. Yang ancaman terasa rumah. Dan kalau kamu baca ini dan merasa, “kok gue banget?” Itu bukan lebay kok.. Itu tanda kamu pernah ada di fase survival mode dari sesuatu yang sulit dihadapi. Kabar baiknya… kompas itu bisa diperbaiki. Dengan terapi, insight baru, hubungan yang sehat, dan ruang aman buat mengulang lagi belajar mempercayai orang… secara perlahan tapi nyata. Dan kalau kamu lagi di fase itu… kamu gak sendirian. ✨ hai! gue Yova. mantan ODGJ, motivator internasional lulusan cum laude UI yang sekarang lagi kejar mimpi buat jadi psikolog. Follow biar bisa belajar bareng dan benerin “kompas cinta” kamu pelan-pelan ❤️🩹 #psikologi #psikolog #toxic #bpd #trauma
✨Yovania AJ | RSJ Survivor🧡💚
@yovania_ajFounder pasti.id (on IG) IG: @yovania_aj inquires: +62 88295158389 (Manager)
🔗 collshp.com/yovania_aj ↗🔎 Détails (profil + refresh) ouvrir
tapi plis jangan sampeberani mempermainkan hati nak psikologi yaa, apa lagi sampe boong…🤧😌 aku bisa tau kebenarannya cuma dari cara kamu napasss, xixixi~ 🧠✨🤭 #psikologi #jomblo #psikolog #fyp #kesehatanmental
Plis ya, gue ngomong gini karena gue sayang sama lo… bukan karena gue suka ngurusin hidup orang😤 Tapi jujur… lo tuh gampang banget yaaa masuk ke hubungan toxic🙂↕️ Dan gue tau itu bukan karena lo beg0…. Tapi karena lo terlalu ngasih hati ♥️ ke orang yang cuma layak dikasih jempol doang👍 Jadikarena gue udah capek ngeliat lo mewek, nih gue kasih cara paling basic buat menghempas toxic relationship: 1. Kalo dia lebih sering bikin lo nangis dari pada ketawa, mending lo ngupas bawang aja daripada pacaran… alias putisin buruuu!!! 2. Kalo lo juga harus “maklumin” dia tiap saat karena trauma yang dia punya… lo itu bukan lagi sabar, tapi lagi nyiksa diri sendiri☺️🙏 3. Kalo dia cuma baik saat lo udah mau pergi, itu bukan berubah… itu panik kehilangan fans sejati🥰 4. Red flag tuh gak perlu ditunggu sampe warna merah tua♥️ keliatan warna merah muda aja udah cukup as a warning sign biar lo cepet-cepet kaborrrr💗🏃♀️💨 5. Jangan jatuh cinta sama “versi dia yang lo harapin”. Dia kayak gitu ya emang KAYAK GITU. Bukan karena dia bisa berubah kayak mood lo pas lagi PMS. 6. Kalo lo butuh break, napas, or even healing dari hubungan lo sendiri… keluar aja langsung!!! Cinta tuh bukan bakti sosial… lo gak wajib bantu support dan sembuhin trauma semua orang. Dan yang paling penting: 7. Jangan kasih akses ke hidup lo ke orang yang bahkan belum berdamai sama dirinya sendiri. Sayang bangettt tauk beb, lo tuh cakep, pinter, lucu, punya masa depan yang cerah… masa jatuh cintanya ke orang yang bikin mental lo ikutan drop juga? Gue bilang ini bukan buat ngejudge. Tapi karena gue tau lo layak dapet cinta yang TEPAT. Cinta yang bikin tenang dan damai, bukan deg-degan karena trauma. Udah, itu aja yaaa! Capek nih gue udah ngetik panjang-panjang beginihhh… Awas aja yaa kalo ujung-ujungnya lo balikan lagi!!!! 🫵😮💨 #psikolog #toxic #relationship #redflag #trauma
this is the body I choose to love by taking care of it… not to hate and ignore while hiding behind #selflove or #bodypositivity 😉😘 Real and quick question: are you literally healing… or just pretending you are?🧐🤨 #gym #bodygoals #workout
Kalian cuma lihat berita, mereka kehilangan orang yang mereka sayang. Dan duka nggak pernah sesederhana “siapa salah, siapa benar.” Dari 5 stages of grief, fase mana yang paling berat menurut kalian? #lula #lulalahfah #meninggal #psikologi #mentalhealth
I HATED THE VERSION OF MYSELF WHO WORE THE HIJAB. [May, 2025] It’s almost been a year since I decided to wear a hijab. a huge decision that changed so much in my life. I grew, I learned, and I felt closer to Allah. And yet… just like the song says, ‘I kept running for miles trying to get away from the things I was afraid of’ — including everything inside me. At first, I thought this decision would give me safety, comfort, a sense of control over a world that never felt safe. I felt protected by the long, loose clothing because it hid the curves that the world loved to stare at more than I ever felt comfortable with. I thought my hijab might make those hungry, lustful eyes hesitat — even just a little. I thought the hijab could protect me and I was wrong. No matter how much fabric covered my body… I was still an object. I was still harassed. I was still swallowed by the kind of stare that freezes your whole existence. And they remained the same — predators who hunt without conscience, without shame, without boundaries. The truth is… I never hated the hijab. I hated the version of myself who thought she could survive the world if she just covered enough of her body. The version of me who couldn’t protect herself. ‘Fell in love, but it left me lonely’ — that’s what the song says. And in my case, I loved the idea of safety, I clung to it… and it still left me alone with fear, with shame, with trauma. What happened to me made my body remember that fear. And sadly… the hijab I wore became part of that memory. For months, I tried to make peace. Not with the hijab — but with the wounded girl inside me. The girl who froze. The girl who survived. The girl who deserved better. Every time I looked in the mirror wearing that hijab, I didn’t see strength — I saw the weakest version of myself that I failed to protect. Some days, I wanted to smash the mirror just so I wouldn’t have to see her anymore. So I chose to take my hijab off. Not because it was wrong. Not because I turned away from faith. But because the version of me who wore it was too full of wounds and I still can’t touch it without trembling. I didn’t know what I was looking for — until I found her: The part of me that still wants to feel alive. The part that survived. The part that’s learning to trust again. For months, I put it back on again just to be accepted. To avoid the questions. The assumptions. The judgment. But I’m tired of hiding my wounds. I want to accept my body, myself, my trauma, and my choices. Let me be human. Let me remain Yovania, with or without a hijab. I guess that’s how you know that it’s love — when you’re scared to death they’ll leave. And for the first time… I choose not to leave myself. #healingjourney #hijab #foreducationalpurposesonly #mentalhealth #fyp
tapi bagaimana kita akhirnya membenci diri sendiri setelahnya. Bukan bajunya. Bukan hijabnya. Bukan tubuhnya. Tapi diri kita; yang sudah berusaha melindungi dirinya, tapi tetap tidak aman. Dan yang lebih menyedihkan: banyak dari kita akhirnya “mengubah diri” untuk bertahan hidup. Ada yang mengganti cara berpakaian. Ada yang menjauh dari ruang publik. Ada juga yang, tanpa sadar, menggemukkan tubuhnya sendiri supaya tidak lagi “terlihat menarik”, karena dulu luka itu datang saat tubuhnya sedang “ideal”. Trauma punya caranya sendiri untuk menyamar sebagai pilihan. Kalau kamu baca ini sampai akhir, aku cuma ingin tanya satu hal: Kira-kira berapa banyak orang yang menyembunyikan luka seperti ini di balik senyum mereka? Dan… apakah kamu salah satunya? Kalau iya, kamu tidak sendirian. Kamu tidak salah. Dan tubuhmu tidak pernah pantas disalahkan. Mereka bilang, “makanya tutup auratnya biar nggak mengundang.” Tapi realitanya… dunia tidak bekerja seperti itu untuk perempuan. Perempuan tetap rawan disakiti, bahkan ketika sudah berusaha sekuat mungkin untuk melindungi dirinya. #mentalhealth #trauma #healingjourney #education #foreducationalpurposesonly
tiap circle pasti punya psikolognya sendiri, ya gak sih? tag si panglima curhat itu ges! @dirisendiri #izin #panglima #psikolog #circle #jabatan
I almost lost myself in 2016🥀💔 2026 is me choosing to fight for my life🌹❤️🩹 #bullyingawareness #stopbullying🛑✋ #mentalhealth #mentalhealthmatters #bipolar
P! tebak ekspresi Ki Hajar Dewantara dan R.A Kartini pas tau pemuda 19 tahun di zaman ini bentukannya kek gini?… 🙏😭 #kuliahscam #19tahun #nikah #kuliah #psikologi
Hoarding disorder bukan sekadar kebiasaan numpuk barang. Dalam psikologi, hoarding disorder adalah kondisi ketika seseorang: - merasa cemas berlebihan saat harus membuang barang, - menyimpan barang walaupun sudah jelas tidak terpakai, - dan penumpukan itu mengganggu fungsi rumah & keseharian. Yang sering gak kelihatan… di balik barang-barang itu, biasanya ada rasa takut kehilangan, trauma kekurangan, atau pengalaman hidup yang serba tidak pasti. Buat sebagian orang tua, menyimpan barang adalah cara bertahan alias coping mechanism. Bukan karena gak mau rapi, tapi karena pernah hidup di fase: “kalau nanti butuh gimana?” “gimana kalau besok gak punya apa-apa?” Hoarding bisa dikategorikan jadi masalah ketika sudah bikin stres, konflik keluarga, dan ruang hidup jadi gak sehat. Jadi sebelum marah, sebelum ngedumel, coba tanya dulu: “apa yang dulu pernah bikin Mama ngerasa gak punya apa-apa?” Karena yang perlu dibereskan seringkali bukan barangnya dulu, tapi rasa aman di dalam dirinya 🤍 Relate? Follow @yovania_aj RSJ survivor yang lagi lanjut kuliah psikologi dan hobi sharing fakta menarik seputar dunia psikologi🧠✨ #psikologi #hoardingdisorder #kesehatanmental #mentalhealth #hoarding
⚠️tolong ya adik-adik… jangan kurang ajar baperin Tante satu inihhh karena gabut ajahhh… mending belajar biar cum laude kayak Tante dulu pas di UI🤓😏 Tante juga sudah kapok sama berondong… mantan terakhir Tante kelahiran 2005 soalnya🙏😮💨 #sarinah #psikologi #berondong #mahasiswa #gundar
Sous-titres IA en 1 clic
Vidéo importée → version prête à poster.
Dalam psikologi, ada 4 attachment style 1. Anxious Dibales “ok” doang otak langsung bikin film 3 season tentang bagaimana kisah cinta ini akan berakhir dengan tragis dan menyedihkan. Si Anxious butuh reassurance, karena takut ditinggal, sering ngerasa: “aku kurang apa ya?”. Bukan sekedar lebay, biasanya mereka ini korban yang pernah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. 2. Avoidant Kelihatan chill, mandiri, anti ribet. Tapi begitu mulai deket: “hmm… gue butuh space.” Sebenernya bukan gak mau cinta, tapi takut terlalu butuh dan takut kecewa jadinya malah milih mundur duluan. 3. Fearful-avoidant (chaos edition) Pengen deket, Tapi takut deket. Kangen tapi suka ilfeel sendiri. Suka deketin orang, terus malah nge-push away. Capek? Banget. Bingung? Apalagi. Layangan aja insecure sama pola tarik-ulurnya Fearful-Avoidant. Biasanya alibi yang sering dipake “aku mau kamu, tapi aku takut nyakitin atau disakitin lagi” 4. Secure Ini yang kalo chat dibales lama bakal langsung mikir “Oh, mungkin dia lagi sibuk.” Terus langsung lanjut fokus ke kehidupannya sendiri. Komunikasinya juga jelas dan terbuka, gak perlu main tebak-tebakan dan bikin kamu curhat tengah malem ke chatgpt. Yes, mereka nyata. Dan sering bikin kita mikir: “kok dia setenang itu sih?” ⚠️ hal terpenting yang perlu kamu tau: attachment style itu pola atau kebiasaan, bukan label atau diagnosa seumur hidup. Bisa bangettt berubah asal kita sadar, mau belajar, dan percaya sama hubungan yang bikin kita ngerasa aman. Jadi kadang masalahnya bukan “dia avoidant” atau “gue anxious”, tapi dua orang luka lagi kebetulan ketemu tanpa sadar bahwa mereka lagi saling “terluka”. Belajar mencintai dan dicintai itu bagian proses, jadi semangat ya! Semoga kita semua bisa ada di attachment style yang SECURE🫶 Sekarang ngaku: yang mana attachment yang “ini gue banget” atau “ini doi gue banget”? 😌☕️ #attachmentstyle #avoidant #anxious #mentalhealth #psikologi
Texte → vidéo TikTok IA
Tu écris le prompt, on génère la vidéo.
2026 will be our year, I promise🙏🥺 #2025 #newyear #pov #MentalHealth #kesehatanmental
- Je compte uniquement les vidéos ≥ 60 secondes (tu m’as dit que <60s = pas pris en compte).
- Calcul sur les 30 derniers jours (dans la limite des 35 dernières vidéos qu’on a dans le JSON).
- RPM estimé : 1€/1k vues (range 0.7–1.3) basé sur ER + save rate + durée moyenne.
- Résultat: 4.05€ sur 30j (range 2.83€–5.26€), pour 4.04K vues éligibles et 1 vidéos ≥60s.
- Emoji + note /10 = performance globale de la vidéo (views + ER + saves).
- ER = (Likes + Commentaires + Partages) / Vues • Save rate = Sauvegardes / Vues.
- Badges “Au-dessus / En dessous” = comparaison directe à la moyenne de TON compte.
Importe ta vidéo, et Vexub génère une vidéo sous-titrée prête pour TikTok, Reels ou Shorts. Pas de montage, pas de prise de tête.
- Reconnaissance vocale IA → texte propre
- Sous-titres syncro automatiquement sur la vidéo
- Format vertical optimisé pour les vues