Banyak orang tua datang dengan satu pertanyaan klasik: “Dok, anak saya makannya baru sebentar, habis itu turun dari kursi. Ini dilanjut atau disudahi?” Dan hampir selalu, fokusnya langsung ke anak. Anaknya kenapa? Anaknya bandel? Anaknya nggak bisa duduk tenang? Padahal sering kali, bukan anaknya yang perlu diperbaiki, tapi cara kita memahami proses makannya. Makan itu bukan cuma aktivitas masukin makanan ke mulut.Makan adalah keterampilan. Dan seperti semua keterampilan lain, nggak langsung rapi dari awal. Anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang. Belajar duduk. Belajar fokus. Belajar berhenti. Orang tua juga belajar. Belajar menunggu. Belajar membaca sinyal tubuh anak. Belajar menahan diri untuk tidak “kejar target”. Masalah mulai muncul saat proses ini berubah arah. Saat yang dinilai bukan lagi bagaimana makannya berjalan, tapi berapa yang masuk. Lalu muncullah pola-pola yang niatnya baik, tapi efek jangka panjangnya berat: makan dikejar, makan sambil main, makan dipanjang-panjangin, asal kelihatan masuk. Anak memang tampak makan. Tapi sinyal tubuhnya pelan-pelan jadi nggak didengar. Rasa lapar dan kenyang jadi kabur. Dan makan yang seharusnya netral, pelan-pelan berubah jadi tekanan. Capek buat anak. Capek juga buat orang tua. Akhirnya muncul drama makan, GTM berulang, dan label-label yang tanpa sadar kita tempelkan sendiri. Padahal tujuan makan itu sederhana. Bukan piring bersih. Bukan jumlah suap. Tapi membangun hubungan makan yang aman, tenang, dan berkelanjutan. Karena feeding itu bukan soal memaksa. Bukan soal membiarkan. Tapi soal merespons dengan tepat. Gimana? Udah siap mengajarkan cara makan yang bener?